Rumah Khadijah Kubra, Hauzah Ilmiah Islam Pertama

 

Syiahindonesia.id – Kebersamaannya dengan Rasulullah saw dan bantuan-bantuan yang diberikan oleh keluarganya kepada muslimin yang diboikot di Syi’b Abu Thalib menyebabkan seluruh muslimin itu merasa tegar dan kokoh. Kebersamaan dan pengorbanan ini telah menjadikannya sebagai wanita Muhajir yang menjadi teladan bagi seluruh semesta alam.

Siapa tidak kenal wanita ini? Dia adalah Khadijah Kubra seorang wanita bersahaja dan memiliki pikiran yang dalam. Di samping sebagai seorang wanita salihah yang penuh dengan ketakwaan, melalui kecerdasan yang dimiliki, ia mampu menjalankan roda ekonomi perniagaan yang setiap orang ingin melakukan kerja sama dengannya.

Allah telah menjadikan wanita ini sebagai figur bagi seluruh kaum wanita dunia. Ia adalah seorang kaya raya yang telah berjihad di jalan Allah dengan seluruh harta dan jiwa yang dimiliki. Rasulullah saw selama masih hidup senantiasa mengingatnya dengan sangat baik. Beliau pernah bersabda, “Islam di samping daya tarik yang dimiliki berdiri tegak lantaran keberanian dan pedang keadilan Ali dan harta benda Khadijah.”

Satu-satunya Rumah yang Berpenghuni Muslim

Sejarah hauzah ilmiah berjalan serentang sejarah Islam. Hauzah ilmiah pertama adalah rumah Khadijah yang hanya memiliki dua murid: dia sendiri dan Imam Ali as. Juga hanya ada satu guru. Dan ia tidak lain adalah Rasulullah saw sendiri.

Amirul Mukminin as pernah berkata, “Ketika itu, tak satu pun rumah memeluk Islam kecuali Rasulullah dan Khadijah, dan saya adalah orang ketiga.”

Rasulullah saw senantiasa menyebut Khadijah dengan baik dan selalu mengirimkan salam untuknya. Beliau bersabda, “Khadijah bergabung denganku ketika seluruh masyarakat menjauhiku. Ia tidak pernah meninggalkanku sendirian di jalan Islam dan senantiasa mendukungku. Semoga Allah mengampuninya. Ia adalah seorang wanita yang penuh berkah, dan aku memiliki enam anak darinya.” (Bihar al-Anwar, jld. 16, hlm.12)

Bukti Kecintaan Khadijah kepada Allah

Kesucian diri, pernikahan spiritual, keimanan, hijrah, dan kesabaran adalah enam tanda keistimewaan Khadijah as.

Kesucian diri Sayidah Khadijah pada masa itu menyebabkan dirinya menjadi figur dan memperoleh julukan thahirah (wanita yang suci). Sekalipun harta melimpah yang dimiliki dan banyak bangsawan berdatangan untuk meminangnya, tetapi ia tetap memilih kesucian diri dan hati yang penuh cinta kepada Allah.

Sayidah Khadijah memilih Rasulullah saw sebagai suami lantaran ia kenal perangai dan akhlak beliau. Masalah materi sama sekali tidak masuk dalam nominasi pernikahan ini.

Keimanan kalbu dan amal salih telah menjadikan Khadijah wanita pertama yang beriman kepada Rasulullah saw.

Khadijah Telah Disiapkan untuk Mendidik Sayidah Zahra

Kebahagiaan dan kesengsaraan setiap insan telah ditetapkan ketika ia masih berada di dalam rahim ibunya. Tetapi, ia tidak berarti bahwa segala sesuatu telah terpatri sehingga tidak bisa dirubah lagi. Ibadah, doa, dan amal salih ibu sangat mempengaruhi ruh dan jisim seorang bayi.

Untuk itu, ketika kita menelaah sejarah dan biografi para nabi dan manusia-manusia suci, kita akan memahami bahwa mereka lahir dari ayah dan ibu yang suci. Seluruh amal dan perilaku seorang ibu pada masa hamil adalah asupan makanan yang diberikan kepada bayi.

Rahim Sayidah Khadijah adalah rahim yang suci, karena rahim ini harus menjadi tempat bagi sebuah sperma yang suci sehingga terlahirlah seorang sosok seperti Sayidah Fatimah Zahra as.

Wanita yang Senantiasa Meluruhkan Kesedihan Rasulullah

Rasulullah saw senantiasa mengingat istri beliau ini dengan sabda, “Allahlah saksiku. Khadijah adalah wanita yang merangkulku ketika seluruh masyarakat menjauhiku. Ketika seluruh masyarakat lari dariku, ia selalu menyayangiku. Ketika seluruh masyarakat membohongkan ajakanku, ia malah beriman kepadaku dan membenarkanku. Ia selalu membantuku dalam setiap problem hidup. Ia senantiasa membantuku dengan hartanya dan mengikis habis kesedihan dari hatiku.”

Di Manakah Ibuku?

Imam Shadiq as berkata, “Fatimah Zahra masih kecil ketika Khadijah meninggal dunia. Ia menemui ayahnya seraya bertanya, ‘Di manakah ibuku?’ Rasulullah saw hanya bisa berdiam. Tak lama kemudian, Jibril turun seraya berfirman, ‘Allah mengirimkan salah kepadamu. Katakanlah kepada Zahra bahwa ibunya sekarang berada di surga dalam sebuah istana emas yang berpilar yaqut merah. Di sekelilingnya ada Asiyah dan Maryam.”

Berkah untuk Khadijah dan Penghibur bagi Rasulullah

Dalam kitab al-Khasha’ish al-Fathimiyah disebutkan, ketika Khadijah meninggal dunia, para malaikat membawakan kafan khusus dari sisi Allah untuknya. Hal ini adalah berkah bagi Khadijah dan penghibur lara bagi Rasulullah saw.

Rasulullah saw mengkafani Khadijah dengan kafan tersebut dan lantas membawanya ke pekuburan guna dimakamkan di sisi ibunda beliau, Siti Aminah. Sebelum memasukkannya ke liang lahat, Rasulullah turun ke dalam kubur dan tidur sejenak. Setelah keluar, beliau menguburkan Khadijah di situ.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *