Puasa Menuju Mihrab-Nya Menurut Para Imam Bagian II

Koreksi Diri

Kezaliman bukan bermakna penguasaan. Kezaliman adalah mengambil dan merampas hak orang yang memiliki hak atas Anda. Dan kezaliman terjadi dalam perbuatan melampaui batas terhadap orang-orang lemah di hadapan Anda. Persoalan-persoalan ini membutuhkan koreksi dan instrospeksi diri. Sebab kita sering melupakan diri sendiri. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Barangsiapa menyibukkan diri dengan aib orang lain, niscaya lupa dengan aibnya sendiri.” Dalam diri kita terdapat hawa nafsu yang menggiring pada keburukan. Kita tidak pernah memikirkan dan merenungi diri kita sendiri demi mempertanyakan titik kelemahan dan kelebihan jiwa kita. Seyogianya kita acap bertanya pada diri sendiri. Berapa kali aku berdusta, menggunjing, berbuat aniaya, mencela, dan seterusnya? Seyogianya kita menjadi teman diri kita sendiri. Temanmu adalah siapa yang menyertaimu, bukan siapa yang membenarkanmu. Kita harus menahan dirinya dari melakukan hal-hal yang berbahaya, serta membimbingnya menuju apa-apa yang bermanfaat baginya. Katakan pada diri kita, “Wahai jiwa, apa yang dilarang Allah akan merusak hidup manusia di dunia dan di akhirat. Adapun apa yang dititahkan Allah akan memperbaiki hidup manusia di dunia dan di akhirat.” Berpikirlah dengan cara ini dan jadilah tamu Allah Swt. Ini agar kita berbuat ikhlas semata-mata karena Allah Swt dalam semua urusan. Mengoreksi diri bukanlah pekerjaan mudah. Sebab itu meniscayakan gerak dari alam syahwat dan perasaan. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhanya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya),  (al-Nâzi’ât: 40-41) Ya, manusia harus diajak memahami dirinya sendiri, mengkoreksinya, mengadilinya, dan memeranginya (jadikan dirimu musuh yang kamu perangi, karena dalam dirimu terdapat hawa nafsu yang memerintahkan pada keburukan, kecuali yang dirahmati Tuhanku).

Bulan Allah Swt, Amal, dan Ketaatan

Wahai kecintaanku! Bulan ini adalah bulan besar berkala. Di bulan ini, kita diharuskan berniaga dengan Allah Swt. Berdaganglah dengan Allah dengan perdagangan yang menguntungkan. Apakah ada di antara kita yang ingin dirugikan dalam perniagaannya? Lalu mengapa kita tidak melakukan perdagangan itu demi memperoleh keselamatan dari siksa nan pedih? Mengapa pula kita tidak berjalan di atas landasan ketaatan kepada Allah Swt? Dengan taat, dunia akan menyertai serta mengajak kita menuju alam kubur yang tak seorang pun dapat dijadikan sahabat untuk bermaksiat kepada Allah Swt. Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.(al-Rahmân: 26-27)

Jika Allah Swt menjadi tujuan serta arah langkah kita, maka hendaklah kita tidak ditundukkan hawa nafsu atau berjalan di belakang orang yang bermaksiat kepada-Nya, yaitu orang zalim atau pelaku kriminal lainnya. Renungkanlah ungkapan Rasulullah yang diabadikan al-Quran: Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku.'(al-An’âm: 15) Siapakah kita di hadapan seruan tersebut yang menggambarkan keagungan pengetahuan Rasulullah terhadap-Nya serta ketaatan beliau pada-Nya?

Rasulullah saww adalah sosok hamba yang taat kepada Allah Swt. Dan kemulian para nabi, juga para imam, terletak pada ketaatan kapada-Nya. Allah Swt adalah pencipta mereka semua yang menjadi hamba-hamba-Nya. Karenanya, tak ada kekerabatan antara Allah Swt dengan para nabi dan wali-Nya. Mereka adalah para insan yang telah membumbung naik menuju arah-Nya serta mendekatkan diri dengan taat kepada-Nya, menjalankan perintah-perintah-Nya, dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Allah Swt menjelaskan hal ini dalam al-Quran: (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-angan kalian yang kosong, dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.(al-Nisâ’: 123) Dalam riwayat disebutkan bahwa di ahir hayatnya, Nabi saww berkhutbah di hadapan manusia seraya bersabda, “Wahai manusia! Janganlah berangan-angan bagi yang berangan-angan dan janganlah mengaku-ngaku bagi yang mengaku-ngaku! Sesungguhnya tak ada yang menyelamatkan (seseorang) kecuali amalnya yang disertai (karunia) rahmat. Maka seandainya aku bermaksiat, niscaya aku akan binasa.” Alkisah, disebutkan bahwa tatkala beliau sedang duduk dalam keadaan ihtidhâr (sakratul maut), serta dikelilingi sanak-kerabatnya seperti Abbas bin Abdul Muthalib (pamannya), Shafiyyah binti Abdul Muthalib (bibinya), Fathimah al-Zahra (putri terkasihnya), dan lainnya, beliau menoleh ke arah mereka seraya bersabda, “Wahai Bani Abdul Manâf! Kerjakanlah apa yang telah Allah perintahkan kepada kalian! Sesungguhnya aku tidak dapat memenuhi apapun yang kalian butuhkan dari Allah Swt. Wahai Abbas bin Abdul Muthalib, wahai paman Rasulullah! Tunaikanlah apa yang telah diperintahkan Allah padamu! Sesungguhnya aku tak dapat memenuhi apapun yang engkau butuhkan dari Allah. Wahai Shafiyyah binti Abdul Muthalib, wahai bibi Rasulullah! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan Allah padamu! Sesungguhnya aku tak dapat memenuhi apapun yang engkau butuhkan dari Allah. Wahai Fathimah binti Muhammad! Lakukanlah apa yang telah diperintahkan Allah padamu! Sesungguhnya aku tak dapat memenuhi apapun yang engkau butuhkan dari Allah.”

Barangkali seseorang menanyakan perihal syafaat bagi manusia sebagaimana yang diungkapkan al-Quran: … dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.(al-Anbiyâ’ 28) jelas, syafaat hanya diperoleh orang-orang tertentu saja. Dan Ahlul Bait (Nabi) tidak memberi syafaat kecuali pada orang-orang yang mengikuti jalan hidup, perangai, dan perbuatan mereka (Ahlul Bait Nabi saww).

Hendaknya kita mengosongkan pikiran kita di bulan mulia ini dari apa-apa yang tidak diridhai Allah Swt, serta membukakakan kehidupan, hati, dan akal kita terhadap sesuatu yang diridhai Allah Swt serta membawa kebaikan bagi jiwa kita. Hendaklah kita berpuasa dengan sepenuh hati, akal, dan ruh, serta meraih ketakwaan kepada Allah Swt yang menjadi tiang penyangga puasa dan tujuan luhur yang melindungi kepribadian seorang muslim. Puasa semacam itulah yang diinginkan Allah untuk dijadikan hiasan agama Islam serta sarana meneggakkan yang haq: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas diri kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.(al-Baqarah 183). Inilah misi puasa; ketakwaan, ibadah, dan amal saleh.[]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *