Model Keluarga Mahdawi di Era Ghaibat Imam Mahdi as

Syiahindonesia.id – Kehidupan Mahdawi adalah kehidupan yang didasari oleh orientasi dan jiwa serta kehidupan terbentuk bedasarkan dua hal tersebut sehingga menemukan identitas. Kehidupan model ini adalah berusaha untuk meraih keridhaan Allah Swt sebagai satu-satunya orientasi.

Keluarga merupakan institusi sosial terkecil yang memainkan peran utama dalam membentuk masyarakat serta mempersiapkan peluang bagi struktur identitas dan emosi seseorang di masyarakat. Jika setiap keluarga ingin menggambarkan tujuan jangka panjang dan nilai-nilai tinggi bagi dirinya, maka mereka harus mengikuti prinsip dan koridor tertentu.

Jika sebuah keluarga Muslim ingin mengambil tindakan mendasar bagi perkembangan dan pendidikannya, maka ia tidak harus fokus pada pemenuhan kebutuhan materi anggotanya, tapi harus juga memperhatikan kebutuhan spiritual anggota keluarganya.

Penghambaan kepada Tuhan dan melaksanakan apa yang dianjurkan di proses ibadah harus mendominasi di lingkungan dan kehidupan keluarga. Penghambaan yang ikhlas kepada Tuhan mengarahkan anggota keluarga ke jalan kebenaran dan hidayah serta hati-hati mereka samakin baik berhubungan di bawah naungan kasih sayang Ilahi.

Setiap anggota keluarga harus menumbuhkan pengetahuan dan pemahaman terkait Tuhan dan rasul-Nya serta para imam maksum, sehingga mereka mencapai perkembangan spiritualitas. Saat itu, mereka akan menyadari pentingnya keberadaan seorang Imam dan mereka akan menyadari semakin dalam alasan sabda Rasul, “Sebaik-baik amalan umatku adalah penantian Faraj (datangnya kelapangan).”

Menunggu kemunculan kembali Imam al-Zaman (as) selama ketidakhadirannya adalah deklarasi penerimaan perwalian dan imamah dari wali terakhir Nabi Khatam (pbuh) dan menyebabkan kaum Shiah mempertahankan kontak dengan Imam mereka, meskipun dengan cara yang tulus dan spiritual. Keluarga Mahdavi adalah keluarga yang, dengan memahami keberadaan Wali Allah dalam konteks kehidupan, mencoba menyesuaikan perilakunya dengan kesenangan Wali Allah dan mengembangkan tujuannya di jalan yang mengarah pada kemunculan bangsawan itu.

Anggota keluarga harus mengenal Imam Zaman as dan meyakini bahwa beliau masih hidup, dan kedua mengawasi umatnya serta keghaibannya bukan berarti ia tidak hadir yang sama artinya dengan tidak akan muncul. Imam Zaman tidak tampak, tapi ia hadir dan mengawasi. Keluarga Mahdawi harus menyadari bahwa Imam Zaman as menyadari keadaan mereka, karena Imam ketika menghendaki akan mengetahui apa yang ia inginkan.

Kinerja kehidupan Mahdawi yang dikuasai oleh orientasi dan ruh serta kehidupan terbentuk pada kedua hal tersebut serta menemukan identitasnya, satu-satunya upaya yang ditempuh adalah untuk meraih keridhaan Wali Allah Swt. Sama seperti yang beliau pesankan kepada pengikutnya, “Setiap dari kalian harus berbuat memanfaatkan setiap sarana yang mendekatkan kepada Kami, dan jauhilah sesuatu yang mendekatkan kepada kemarahan dan kesedihan Kami.”

Kekhawatiran keluarga Mahdawi bukan hanya kebahagiaan individu, tapi interaksinya dengan yang lain seperti yang dijelaskan bahwa segala sesuatu menjadi sarana bagi kemunculan Imam. Di keluarga Mahdawi, kekhawatiran utama adalah kekhawatiran Imam, bukan kekahwatiran diri sendiri. Oleh karena itu, selain berpikir memberbaiki diri sendiri juga harus memikirkan untuk memperbaiki orang lain.

Manusia dan keluarga Mahdawi harus siap berkorban sehingga mampu membuat agama semakin tinggi dan berkembang. Keluarga Mahdawi harus bergerak dan menjadikan amal perbuatannya di jalan ke arah pemerintahan yang dijanjikan oleh Tuhan kepada seluruh nabi dan auliya’. Serta pada dasarnya tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk meraih pemerintah Ilahi. Sama seperti kita baca di doa Iftitah selama malam penuh berkah di bulan Ramadhan: «اللَّهُمَّ إِنَّا نَرْغَبُ إِلَیْکَ فِی دَوْلَةٍ کَرِیمَةٍ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلامَ وَ أَهْلَهُ وَ تُذِلُّ بِهَا النِّفَاقَ وَ أَهْلَهُ» Ya Allah! Aku sangat merindukan pemerintahan yang mulia, di mana Islam dan pengikutya Kamu muliakan dan nifak serta orang-orang munafik menjadi hina.

Setan berjanji akan menyesatkan dan membujuk hamba Allah hingga hari Kiamat seperti yang dijelaskan oleh ayat 39 surat Al-Hijr, «… لَأُزَیِّنَنَّ لَهُمْ فِی الْأَرْضِ وَلَأُغْوِیَنَّهُمْ أَجْمَعِینَ»،….pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.

Di era ghaibah yang sangat sensitif dan kebenaran serta kebatilan bercampur serta tidak mudah untuk menentukan jalan yang benar, kubu setan tidak duduk diam. Mereka dengan beragam trik dan menciptakan kefasadan senantiasa ingin menangguhkan kemunculan sang juru selamat umat manusia. Tapi kehendak Allah adalah orang-orang saleh pewaris utama bumi seperti yang dijelaskan ayat 105 surat al-Anbiya yang mengisyaratkan janji Ilahi ini: وَ لَقَدْ کَتَبْنا فِی الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّکْرِ أَنَّ الْأَرْضَ یَرِثُها عِبادِیَ الصَّالِحُون» Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. [Sumber: Alhassanain.org]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *