Makna Filosofis Doa

Makna Filosofis Doa

Syiahindonesia.id – Sudah sering rasanya doa-doa kita panjatkan kepada Allah Swt. Baik berupa doa harian, doa mingguan (seperti doa Kumayl), doa bulanan (seperti Munajat Sya’baniyyah atau doa Iftitah di bulan Ramadhan), maupun berupa doa tahunan. Tapi tak jarang kita hanya terpaku pada bagaimana mengucapkan huruf-huruf dari doa itu sebaik-baiknya, sehingga hal ini mengabaikan kandungan doa itu sendiri. Pada gilirannya, kita merasa cukup dengan “hanya membaca doa”. Tentu perlu pemaknaan yang lebih serius atas setiap doa kita.

Terlepas dari pahala doa dan terlepas dari efek jawaban terhadap jawaban yang dihasilkan oleh doa – dengan menganggap bahwa doa itu tidak hanya sekadar pengucapan atau pembacaan dan telah menjadi satu dengan hati sehingga ruhani manusia membumbung naik – doa itu sendiri mengandung aspek ruhani yang sangat luhur. Seakan-akan manusia melihat dirinya sendiri tersampul cahaya, dan hanya pada saat itulah ia memahami arti kesucian dari permata kemanusiaan. Lalu ia memahami betapa rendahnya, betapa hina dan aibnya urusan-urusan kecil yang menyibukkan dan mengganggu dia pada saat-saat lainnya.

Apabila seseorang meminta sesuatu kepada selain Allah maka ia merasa hina dan aib. Namun ketika memohon kepada Yang Mahatinggi, ia merasakan suatu perasaan kekuatan dan kemuliaan. Oleh karena itu, maka doa adalah adalah pencarian dan yang dicari sekaligus. Para pecinta Allah tidak menyukai sesuatu lainnya lebih daripada doa. Mereka mempercayakan seluruh hasrat dan keinginannya kepada Yang Tercinta yang sesungguhnya. Dan mereka menekankan pentingnya lebih besar kepada pencarian, hasrat, dan doa lebih dari yang mereka inginkan dan mereka hasratkan.

Mereka tidak pernah merasa kepayahan, dalam kata-kata Imam ‘Ali as kepada Kumail bin Ziyad An-Nakha’i : “pengetahuan dan pengertian akan Kebenaran yang selengkapnya tercurah kepada mereka dan mereka mengalami kegembiraan akan kepastian dan kebenarannya. Orang-orang ini merasa bahagia dengan apa yang ditakuti oleh manusia-manusia berjiwa duniawi dan oleh mereka dipandang sebagai yang tidak menyenangkan dan menyulitkan, dan orang-orang ini merasakannya sebagai menyenangkan. Mereka menjadi mengenal apa yang membuat orang-orang yang tidak mengenalnya lari, dan bertemu dengan orang-orang yang badan-badan dan jiwanya terhubungkan dengan dunia kerajaan yang tinggi.”

Jalan dari Hati kepada Tuhan

Setiap orang mempunyai jalan menuju Tuhan dari hatinya, suatu pintu pada setiap hati yang menuju Tuhan. Dalam keadaan-keadaan sulit dan sukar, ketika tidak nampak adanya harapan atau sesuatu jalan apapun lainnya, bahkan orang-orang yang paling jahat sekalipun akan menyadari dan meminta pertolongan Tuhan. Ada suatu kecenderungan dalam hakikat wujud manusia yang kadang-kadang diliputi dosa dan kekejaman. Pada saat-saat sulit dan terdesak, penghalang ini tersingkir dan naluri alami manusia dengan sendirinya menjadi hidup.

Pada suatu saat orang bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq tentang bukti adanya Tuhan. Imam as bertanya kepadanya, “Pernahkah Anda menumpang kapal ?” Orang itu mengiakannya.

Imam Ja’far bertanya lagi, “Pernahkah terjadi badai yang mengancam tenggalamnya kapal itu sehingga seluruh harapan Anda putus sama sekali ?” Orang itu mengiakan, “Sesungguhnyalah peristiwa semacam itu telah terjadi.”

“Pada saat-saat seperti itu, ” kata Imam Ja’far, “hati Anda terpusat ke suatu titik dari mana Anda mengharapkan suatu pertolongan dan perlindungan, Anda memohon kepada ‘titik’ itu untuk menyelamatkan Anda ?” Orang itu pun mengiakannya.

Imam Ja’far menunjukkan kepadanya bahwa Tuhan, melalui hatinya sendiri : “dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikannya ?” (QS 51 : 21). Kecenderungan dan perhatian dalam wujud manusia inilah yang mengarahkan dia kepada Yang Mahakuasa. Kekuatan yang mahabesar yang berada di atas jalan-jalan dan sebab-sebab yang dangkal, pada suatu saat ketika segala jalan lainnya telah musnah, merupakan bukti adanya Kekuasaan itu. Apabila tidak ada kekuatan semacam itu, maka tidak akan ada kecenderungan itu.

Tentu saja ada suatu perbedaan antara kecenderungan yanga ada dalam wujud suatu pribadi dengan pribadi yang sepenuhnya menyadari akan hal itu dan mengetahui tujuan dari kesadaran itu. Hasrat dan keinginan menyusu terdapat pada bayi sejak awal mula kehidupannya. Apabila saja ia merasa lapar dan timbul kebutuhan itu pada dirinya, hasrat dan keinginannya itu dimotivasikan dan membimbingnya untuk mencari puting susu ibunya yang belum pernah dilihatnya sebelum ini, tidak dipahami dan tidak dikenalnya. Kecenderungan itu sendiri membimbingnya, mendorongnya untuk membuka mulutnya untuk mencari makanannya, apabila ia tidak mendapatkannya maka ia pun menangis. Menangis itu sendiri adalah meminta pertolongan dari ibunya, si ibu yang masih asing baginya dan eksistensinya belum disadarinya. Si bayi itu sendiri tidak mengetahui tujuan di balik kecenderungannya, sasaran dari tangisannya. Ia tidak mengetahui sebab dari kecenderungan yang muncul pada dirinya. Ia tidak mengerti akan sistem pencernaan dan bahwa sistem pencernaan itu membutuhkan makanan. Si bayi itu malah tidak mengetahui bahwa ia menghendaki makanan. Ia tidak menyadari bahwa sebab di balik tangisannya itu adalah pemberitahuan kepada ibunya, bahwa ibu yang tidak dikenalnya itu, tetapi yang secara berangsur-angsur akan dikenalnya, tentang lapar dan kebutuhannya itu.

Dalam hal manusia ia mempunyai kecenderungan untuk mencari Tuhan untuk berdoa dan memohon kepada Tuhan yang belum pernah dilihatnya, kita berada dalam posisi yang sama seperti si bayi yang mencari air susu ibunya yang belum pernah dilihatnya dan menangis kepada ibunya yang tidak dikenal dan tidak diketahuinya.

“Sesungguhnya kita adalah dari Allah dan kepada-Nyalah kita akan kembali (QS 2 : 156).
“Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan” (2 : 210)

Tentu saja sekiranya buah dada si ibu dan susu yang sesuai dengan perut si bayi tidak ada, maka instinknya tidak akan membawa dia ke arah itu. Ada suatu mata rantai hubungan antara instink ini dan adanya makanan itu. Hal yang sama seperti itu pun berlaku dengan segala macam kecenderungan yang tertanam dalam wujud diri tanpa suatu maksud dan tujuan. Sebaliknya, segala kecenderungan itu tertanam karena adanya kebutuhan dan pemenuhan atas kebutuhan itu.

Menuju Tuhan Adalah Jalan Fitrah Manusia

Manusia mungkin mencari Tuhan dalam dua situasi. Salah satu daripadanya ialah ketika segala jalan dan usaha telah terputus dan dia terlibat kesulitan dan kemudaratan, dan yang lainnya ialah ketika ruhaninya membumbung dan dia memisahkan dirinya sendiri dari jalan-jalan dan sebab-sebab itu. Pada saat-saat kemudaratan ketika ia tidak memperoleh jalan sendiri, manusia secara otomatis bergerak menuju Tuhan, tanpa perlu diminta untuk berbuat demikian. Namun ini bukanlah suatu penyempurnaan dari jiwa manusia itu sendiri, penyempurnaan dari jiwanya terjadi apabila ia dengan sengaja memutuskan dirinya dari hubungan dengan yang duniawi dan membumbung ke atas.

Syarat-syarat Doa

Perbuatan berdoa mempunyai persyaratan. Syarat yang pertama ialah bahwa hasrat dan kehendak sesungguhnya muncul dalam eksistensi manusia itu sendiri, sehingga setiap unsur dalam dirinya menjadi manifestasi hasrat dan apa yang dikehendakinya menjadi suatu kebutuhan yang mendesak. Tepat ketika suatu kebutuhan muncul pada suatu bagian dari badan manusia, maka organ-organ dan anggota-anggota badan yang lain mulai bekerja untuk memenuhi kebutuhan itu, bahkan mungkin suatu organ mengurangi sebagian besar kegiatannya karena adanya kebutuhan yang muncul pada bagian tubuh yang lainnya, seperti umpamanya, ketika haus menguasai manusia; efek kehausan itu muncul di pipinya sementara kerongkongannya, hati, perut, bibir, dan lidahnya semuanya menyerukan “Air !”, sehingga seseorang yang tidur dalam keadaan haus semacam itu akan memimpikan air, sehingga kebutuhan ruhani manusia itu – yang merupakan bagian dari suatu dunia penciptaan – adalah sama halnya dalam hubungan dengan seluruh dunia. Ruhani manusia adalah bagian dari dunia eksistensi, dan apabila suatu hasrat dan keinginan muncul dalam dirinya, sistem yang agung dari dunia penciptaan tidak akan meninggalkannya.

Ada terdapat suatu perbedaan besar antara sekadar mengucapkan suatu doa dan permohonan doa yang sesungguhnya. Hasrat dan kebutuhan haruslah sungguh-sungguh dan sebenar-benarnya muncul dari hati manusia itu.

Kesesuaian Sistem Penciptaan dan Sunatullah

Suatu persyaratan doa lainnya adalah bahwa doa itu tidak boleh bertentangan dengan sistem penciptaan dan sunnah Ilahi. Doa adalah untuk mencari pertolongan dan bantuan agar manusia itu mencapai tujuan-tujuan yang telah dispesifikasikan baginya dalam kerangka penciptaan dan dalam sunatullah yang sejalan dengan hukum alam dan penciptaan. Apabila doa itu demikian, maka ia mengambil bentuk kebutuhan yang alami dan orang yang berdoa itu ditolong dan dibantu oleh sistem penciptaan yang, karena keseimbangan dan keharmonisan yang dianugerahkan kepadanya, memeberikan rahmat dan kebaikan apabila ada kebutuhan. Namun, sekiranya meminta dan menuntut suatu hal tertentu bertentangan dengan tujuan penciptaan dan sunatullah, seperti umpamanya meminta hidup abadi di dunia ini, maka permintaan semacam itu bukanlah sesungguhnya doa, dan tidak akan dikabulkan.

Sesuai dengan Keadaan Orang yang Berdoa

Satu persyaratan lainnya ialah bah situasi-situasi lainnya dari kehidupan orang yang berdoa itu seharmoni dengan tujuan-tujuan penciptaan dan sunnah Allah. Hati harus suci dan bersih, nafkah hidupnya harus diperoleh dengan jalan yang halal, dan orang yang berdoa itu tidak boleh berbeban dengan apa yang diperolehnya dari manusia secara haram. Imam Ja’far Ash-Shadiq as mengatakan : “Apabila seseorang di antara kamu menghendaki agar doanya dikabulkan, ia harus membersihkan pekerjaannya dan membersihkan dirinya dari apa yang diperolehnya secara tidak halal dari manusia. Karena Allah tidak menerima doa dari seorang hamba yang mengandung sesuatu yang diperoleh menjadi miliknya dari orang lain secara tidak halal.”

Keadaan si Pemohon Bukanlah sebagai Akibat Dosanya

Salah satu syarat lainnya lagi ialah bahwa keadaan orang yang berdoa itu, yang diharapkannya akan berubah dan dipulihkan, bukanlah sebagai akibat yang langsung dari pelanggarannya atas tanggung jawab dan kewajibannya. Dengan kata lain, keadaan dari mana si pendoa itu mengharapkan kelepasannya bukanlah hukuman dan akibat yang logis dari dosa-dosanya; karena apabila demikian halnya maka keadaannya tidak akan berubah sampai dia bertobat dan memperbaiki dirinya. Umpamanya amar makruf nahi munkar adalah suatu kewajiban. Kesejahteraan dan kerusakan masyarakat sepenuhnya tergantung pada terlaksana atau tidaknya prinsip ini. Konsekuensi yang logis dari sikap mengabaikan amar makruf nahi munkar ini ialah terbukanya jalan bagi para penjahat untuk menguasai masyarakat.

Apabila orang lalai memenuhi kewajiban ini dan tertimpa akibat yang logis dari dosa karena kelalaian mereka, kemudian mereka hendak melepaskan diri dari penderitaannya melalui doa, maka hal itu adalah sesuatu yang mustahil. Satu-satunya jalan dalam hal ini ialah bertobat dan kembali lagi kepada prinsip amar makruf nahi munkar dengan segala kemampuannya. Dalam hal ini secara berangsur-angsur mereka akan mencapai tujuannya serta maksud yang didambakannya. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (13 : 11).

Sunnah Allah berarti bahwa sementara orang tidak menghendaki untuk mengubah kondisi mereka sendiri dalam hal-hal yang berhubungan dengan mereka, maka Tuhan tidak akan mengubah kondisi-kondisi itu bagi mereka. Dikatakan dalam suatu hadis yang sahih : “Kamu harus menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran atau (apabila tidak demikian maka) Allah pasti akan menempatkan kejahatan itu di antara kamu, lalu orang-orang yang baik di antara kamu akan berdoa tetapi doa mereka tidak akan dikabulkan.” Sesungguhnya doa seperti itu juga bertentangan dengan sistem penciptaan dan sunnah Allah.

Hal yang sama juga berlaku apabila seorang manusia hanya semata-mata berdoa dan tidak berusaha dengan tindakan. Orang ini pun melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sistem penciptaan dan sunatullah. Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib as mengatakan : “Orang yang berdoa tapi tidak berbuat adalah ibarat orang yang hendak memanahkan anak panah dengan busur tanpa tali pelentingnya.” Ini berarti bahwa tindakan dan perbuatan saling mengisi dan doa tanpa tindakan tidaklah efektif.

Doa Tidak Boleh Dijadikan Pengganti Tindakan

Suatu syarat lain ialah bahwa doa itu haruslah merupakan manifestasi kebutuhan yang sesungguhnya, dalam keadaan di mana manusia tidak mempunyai jalan untuk memperoleh apa yang didambakannya, ketika ia tidak berdaya dan tidak berkemampuan. Apabila Allah telah menganugerahkan kepada manusia kunci bagi kebutuhannya, namun ia menyia-nyiakan rahmat itu dan tidak hendak menggunakan kunci itu lalu memohon kepada Tuhan untuk membukakan pintu itu dengan kunci yang telah ada di tangannya sendiri dan membebaskannya dari beban untuk menggunakan kunci itu, maka tentu saja doa semacam itu tidak patut dikabulkan.

Doa-doa seperti itu harus pula dimasukkan dalam kategori doa yang menentang sistem penciptaan. Doa adalah untuk mendapatkan kemampuan, dan berdoa ketika Tuhan telah menganugerahkan kemampuan yang dikehendaki itu kepada manusia, samalah halnya dengan berusaha untuk mendapatkan apa yang sesungguhnya telah diperolehnya. Hal itu adalah ibarat orang yang berjalan di sepanjang tembok miring yang akan runtuh sambil mendoakan agar tembok itu tidak runtuh dan menimpanya; ia melihat tembok itu hendak runtuh, tetapi ia tidak hendak menyingkir dari situ, sambil terus berdoa supaya tembok itu tidak runtuh dan menimpanya. Atau, ibarat orang yang duduk-duduk di dalam rumah, tidak mau bekerja, dan terus berdoa kepada Tuhan untuk memberikan nafkah kepadanya. Dalam hal-hal seperti ini doa itu tidak ada gunanya dan kosong dari kejiwaan. Hal-hal semacam ini disebutkan di sini sebagai contoh-contoh untuk saat-saat ketika seorang manusia mampu mencapai tujuan dan maksudnya melalui tindakan, kebijaksanaan, dan penalaran pikiran, namun hendak menggantikan tindakan dan usaha dengan doa. Ini tidak benar. Dalam sistem penciptaan, doa bukanlah pengganti usaha dan tindakan, tetapi sebagai pelengkap yang melengkapi usaha dan tindakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *