Habib Dulu dan Kini (2)

Habib : Dulu dan Kini (2)

Sebenarnya asal kata “habib” berarti kekasih atau yang dikasih, yang disayang dan yang dicintai, dan kata ini bisa diucapkan kepada siapapun. Orang-orang Arab di Timur Tengah, misalnya, biasa mengucapakan “habibi” untuk laki-laki, dan “habibati” untuk perempuan kepada orang yang dicintainya. Kata ini juga tidak memiliki keistimewaan sebagaimana kata-kata yang serupa denganya seperti, aziz,syarif dan lainnya. Artinya kata-kata ini bisa diucapkan kepada siapapun, tidak dikhususkan untuk orang-orang tertentu. Namun bagi kalangan para keturunan Nabi saw. yang berada di Hadramaut dan berasal darinya kata ini diperuntukan untuk mereka yang dianggap mempunyai keistimewaan dari sisi keilmuan dalam bidang agama dan kesalehan spiritual.

Saya tidak mendapatkan keterangan tentang mengapa Habib Umar bin Abdurahman Alatas dipanggil “habib”. Beliau seperti sudah dijelaskan adalah seorang sayyid yang pertama kali dipanggi dengan kata ini di kalangan para sayid di Hadramaut. Kalau kita melihat tradisi para sayyid Hadrami yang menyebut seorang sayyid yang berilmu atau mempunyai kelebihan dari sisi spiritual dengan “habib”, maka bisa dipastikan bahwa Habib Umar Alatas adalah seorang sayid yang berilmu atau memiliki kesalehan spiritual di atas para sayyid pada umumnya atau beliau memiliki keduanya.

Kemudian untuk selanjutnya, panggilan “habib” di kalangan para sayyid Hadrami dari sejak Habib Umar Alatas hingga ,mungkin, tahun 1980an diperuntukan untuk para sayyid yang sekelas beliau seperti Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad atau yang sedikit di bawah beliau atau seperti para habib yang disebutkan di atas (lihat Habib : Dulu dan Kini -1) baik yang berada di Hadramaut maupun di luar Hadramaut.

Dewasa ini, mungkin sejak tahun 1990an, panggilan “habib” diucapkan untuk semua keturunan Nabi saw. bahkan untuk anak kecil, maaf, yang masih ingusan pun dipanggil habib oleh para muhibbin dan oleh keluarganya sendiri, dan tidak sedikit pula yang menyebutkan dirinya dengan “habib”. Sebelum tahun ini, mereka biasa dipanggil wan, ayip dan iyek. Seorang teman berkata, “Dulu seorang sayid yang alim pun ketika dianggap belum mencapai kedudukan spiritual tertentu hanya dipanggil ustadz bukan habib”.

Benar bahwa panggilan habib untuk semua keturunan Nabi saw. tidak ada konsekwensinya; hukum maupun akhlak. Dengan kata lain, memanggil mereka dengan habib atau menyebut diri mereka dengan habib tidak berdosa sama sekali. Bahkan memanggil siapapun boleh dengan panggilan habib, atau seseorang mencantumkan kata “habib” sebelum namanya boleh-boleh saja, karena kata ini dari sisi bahasa, bukan milik kelompok tertentu.

Namun, untuk kalangan para keturunan Nabi saw. di Hadramaut dan yang berasal dari Hadramaut, kata “habib” pada mulanya hanya untuk mereka yang telah dianggap layak disebut habib, dan pada perkembangan berikutnya, sejak tahun 1990an, kata ini boleh diucapkan dan dicantumkan pada nama semua keturunan Nabi saw.

Kata ini dianggap sakral dan istimewa dan hanya  untuk para keturunan Nabi saw. saja; orang yang bukan dari mereka tidak boleh dipanggil habib atau kata “habib” dicantumkan pada namanya, karena kata ini mengandung makna bahwa  dia keturunan Nabi saw. Karena itu, seorang yang bukan dari keturunan Nabi saw. ketika mencantumkan kata “habib” pada namanya, maka dia dinggap telah mengaku sebagai keturunan Nabi saw., padahal bukan keturunan beliau atau tidak mempunyai bukti bahwa dia keturunan beliau. Dengan demikian, dia telah bernasab bukan kepada ayahnya sendiri.

Ala kulli hal, kata “habib” itu, baik dimaknai dengan keturunan Nabi saw. yang layak seperti Habib Umar Alatas, ataupun dimaknai dengan semua keturunan Nabi saw. atau dimaknai sebagaimana aslinya, yaitu kekasih sehingga boleh disebutkan untuk semua manusia, hanya lah sebuah kata atau nama yang tidak lain hanyalah ciptaan manusia.

Yang menggelikan adalah banyak manusia yang berdebat dan bertikai hanya karena sebuah kata dan nama tanpa bertanya apa yang dimaksud dengan kata dan nama itu. Karena itu, dibutuhkan kebijakan dalam memilih kata dan nama agar tidak disalah artikan,sebagaimana dibutuhkan kebijakan dalam memahami maksud dari kata dan nama agar tidak mudah menghukum.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *