Habib : Dulu dan Kini (1)

 

Kehadiran keturunan Nabi Muhammad saw. di Indonesia sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri dan kiprah mereka di tengah Bangsa Indonesia juga realita yang dirasakan oleh rakyat Indonesia, baik mereka yang bergelar habib maupun yang tidak bergelar habib seperti para wali songo, para kyai besar dan para tokoh nasional.

Secara umum, keturunan Nabi saw. ini di Indonesia berasal dari jalur Imam Ali Uraidhi bin Jakfar Shodiq as. Mereka terbagi pada dua kelompok besar;

  • Keturunan Sayyid Alwi bin Muhammad Shahib Marbath (baca; Ammul Faqih). Mereka terbagi ke beberapa marga seperti marga Adzamat Khan, Alhaddad, Ba’abud dan lainnya.
  • Keturunan Sayyid Muhammad Faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath. Mereka terbagi ke banyak marga seperti Assegaf, Alaydrus, Alatas, Alhabsyi, Aljufri dan lainnya.

Selain dua kelompok besar ini, ada pula keturunan Nabi saw. dari jalur Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib as. seperti, Alhasni, Bin Syuaib Althaba’thabai dan lainnya, dan dari keturunan Imam Musa Alkadzim bin Jakfar Shadiq as. seperti Almahdali.

Masing-masing dari mereka menyimpan catatan garis nasab mereka yang bersambung kepada Nabi saw. Meski demikian, tidak mustahil ada pula keturunan Nabi saw. yang tidak menyimpan garis nasab mereka, seperti para sayyid yang mendirikan kerajaan Peurlak (Aceh) pada abad 8 Masehi. Mereka, konon, keturunan Sayyid Ali bin Muhammad Dibaj bin Jakfar Shodiq as.

Para keturunan Nabi saw. sekarang ini sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Bangsa Indonesia, bahkan sebagian dari mereka sudah melebur secara total dalam budaya, tradisi dan fisik Bangsa Indonesia sehingga tidak bisa dibedakan dengan dengan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Di tengah para keturunan ini, muncul tokoh-tokoh besar dan terkenal di pula Jawa, misalnya para Wali Songo. Saya berasumsi bahwa keturunan Nabi saw. yang datang ke pulau Jawa pada abad 13-14 Masehi tidak hanya para Wali Songo saja. Bersama para Wali Songo ini ada pula keturunan Nabi saw. yang lain, baik keluarga mereka atau bukan keluarga. Namun yang terkenal di antara mereka yang jumlahnya barangkali puluhan orang adalah para Wali Songo. Popularitas  mereka dipastikan karena dedikasi mereka dalam bidang dakwah, politik dan sosial di tengah masyarakat Jawa.

Pada masa itu, sebutan “habib” belum populer. Sebutan ini baru muncul pada masa Habib Umar bin Abdurahman Alatas (1572-1652 M), dan beliau lah yang pertama kali dipanggil “habib” di Hadramaut, Yaman Selatan.

Kemudian kehadiran mereka ke Indonesia meningkat secara signifikan khususnya dari dari tahun 1830an hingga tahun 1960an. Kehadiran mereka pada masa itu membentuk komunitas-komunitas kecil yang terkonsentrasi di beberapa kota di Indonesia, khususnya di kota-kota sepanjang pesisir Tapal Kuda (pesisir laut Jawa) dari Jakarta hingga Surabaya.

Jumlah para keturunan Nabi saw. pada masa-masa itu barangkali mencapai ratusan ribu orang. Dari jumlah itu, terdapat puluhan ulama yang kharismatik dan berdedikasi bagi Umat Islam di Tanah Air, mereka kemudian dipanggil dengan sebutan “habib”.

Pada masa-masa itu, tidak semua keturunan Nabi saw. dipanggil habib. Hanya puluhan orang saja yang dipanggil “habib”. Bahkan majalah “Rabithah”, majalah resmi terbitan Rabitah Alawiyyah dari tahun 1928 hingga menjelang kemerdekaan, menyebut para pengurusnya baik yang berada di pusat maupun di daerah-daerah dengan sebutan “sayyid” bukan habib, padahal mereka juga tokoh-tokoh penting. Saat yang sama ia menyebut beberapa tokoh dengan sebuatan “habib” seperti yang akan disebutkan di bawah.

Hemat saya, sebutan “habib” hanya diberikan kepada para keturunan yang, menurut mereka, memiliki kelebihan yang khusus dalam bidang ilmu agama, dedikasi sosial dan spritualitas yang tinggi. Berikut ini beberapa tokoh dari keturunan Nabi saw. yang dipanggil dengan “habib” pada masa-masa itu (1830-1960) sebagai contoh :

  1. Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi, Kwitang Jakarta (1870-1968). Beliau seorang ulama kharismatik dan berpengaruh di Jakarta dan sekitarnya yang telah berhasil mendidik puluhan ulama baik dari kalangan sayyid maupun non sayyid.
  2. Habib Husein bin Abu bakar Alaydrus, Luar Batang Jakarta (w. 1756). Beliau terkenal karena spritualitasnya yang tinggi hingga diyakini memiliki banyak “karomah”.
  3. Habib Muhammad bin Thahir Alhaddad, Tegal (1838-1885) dan dua putranya, Habib Alwi bin Muhammad, Bogor (1883-1954)  dan Habib Husein bin Muhammad Alhaddad, Jombang (1885-1957). Mereka dikenal sebagai tokoh yang zuhud dan rendah hati.
  4. Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas, Pekalongan (1835- 1929). Beliau terkenal kesalehan dan karomah-karomahnya.
  5. Habib Alwi bin Ali Alhabsyi, Solo (1913- 1953). Beliau terkenal dengan kesalehan dan karomah-karomahnya.
  6. Habib Muhammd bin Idrus Alhabsyi, Surabaya (1845-1917). Beliau seorang mujahid dan pendiri beberapa panti asuhan untuk anak-anak yatim dari keturunan Nabi saw. di beberapa kota di Jawa.
  7. Habib Muhammad bin Ahmad Almuhdhar, Surabaya (1863- 1926). Beliau dikenal sebagai ulama, penyair,pendidik serta salah satu pendiri Madrasah Khairiyyah di Surabaya.
  8. Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, Gresik (1869- 1957). Beliau dikenal sebagai seorang yang saleh, wara’ dan memiliki banyak karomah.

dan lain-lainnya.

Para Wali Songo dan para habib tersebut mendapatkan penghormatan dari Kaum Muslimin, khususnya dari para keturunan Nabi saw., sedemikian tinggi hingga saat ini, karena faktor seleksi alam yang ketat, murni dan panjang, bukan karena rekayasa media publik dan sosial yang instan dan cepat. Nama-nama mereka harum sepanjang masa dan tidak pernah jatuh. Kemulian itu mereka peroleh karena hasil olah jiwa dan hati mereka yang dekat dengan Allah swt.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *