Faktor Penyebab Perpecahan Umat Menurut Imam Khomeini

Syiahindonesia.id – Sejarah pasang surut Islam menunjukkan bahwa perpecahan antarmazhab dan kelompok serta bangsa-bangsa Muslim menjadi persoalan pelik yang dihadapi umat Islam sejak dahulu kala hingga kini. Betapa banyak kerugian akibat perpecahan tersebut. Padahal, agama Islam sangat menekankan untuk menjaga persatuan dan menjauhi perpecahan. Allah swt dalam al-Qurat surat al-Hujurat ayat 10 berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah berkita. Sebab iman yang ada telah menyatukan hati mereka. Maka damaikanlah antara kedua kita kalian demi menjaga hubungan perkitaan seiman. Jagalah diri kalian dari azab Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dengan harapan Dia akan memberi kalian rahmat berkat ketakwaan kalian.”

Persatuan menjadi tali yang mengikat dan menguatkan umat Islam. Jika tali ini putus, maka keharmonisan pun sirna dan ketentraman umat pun lenyap. Menarik kiranya untuk mengkaji dampak positif persatuan dalam pandangan al-Quran. Kitab ilahi ini memandang terciptanya keamanan dan ketentraman sosial dan politik sebagai dampak dari persatuan. Dalam surat Ali-Imrat ayat 103, Allah swt berfirman, “Berpegang teguhlah kepada agama Allah dan tetaplah bersatu. Janganlah berbuat sesuatu yang mengarah kepada perpecahan. Renungkanlah karunia Allah yang diturunkan kepada kalian pada masa jahiliah, ketika kalian masih saling bermusuhan. Saat itu Allah menyatukan hati kalian melalui Islam, sehingga kalian menjadi saling mencintai. Saat itu kalian berada di jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dengan Islam. Dengan penjelasan yang baik seperti itulah, Allah selalu menerangkan berbagai jalan kebaikan untuk kalian tempuh.”

Berdasarkan ayat ini, perpecahan merupakan sumbu pemicu perang dan pertumpahan darah. Di sisi lain, al-Quran juga menjelaskan dampak kontruktif dari persatuan terhadap penguatan pilar-pilar masyarakat dan terjaganya stabilitas sosial. Ketika sengketa dan perselisihan di tengah masyarakat berhasil diselesaikan, maka hati setiap orang semakin dekat dengan yang lain, dan barisan umat pun semakin kuat. Sehingga tidak ada peluang bagi musuh untuk membenamkan pengaruhnya di tengah masyarakat.Terkait hal ini, Al-Quran surat al-Anfal ayat 46 menjelaskan, “Tinggalkanlah perselisihan dan pertikaian yang membuat kalian tercerai berai dan lemah. Bersabarlah dalam menghadapi segala kesulitan dan rintangan dalam peperangan. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar dengan memberi dukungan, peneguhan dan belaan yang baik.

 Kenapa Terjadi Perpecahan

Sesungguhnya kita tidak mengetahui atas tujuan apa adanya perpecahan dan bergolong-golongan itu. Adakah perpecahan itu tercetus karena kepentingan dunia semata-mata atau perkara manakah yang menyebabkan kita berpecah-belah karena dunia.

Menurut imam Khomeini segala sebab terjadinya perpecahan karena manusia telah menghilangkan tujuan tertentu yang suci adalah merujuk kepada kecintaan kepada dunia. Jikalau perselisihan dalam bentuk ini masih terdapat di antara kita, ini berarti bahwa kita tidak atau belum keluar dari lingkaran kecintaan kepada dunia yang masih bersarang di hati kita. Ini terlihat bahwa  kepentingan duniawi yang terbatas dan telah menyebabkan perlombaan yang begitu jelek di lingkungan kita Kita menghendaki kedudukan itu. Sedangkan pada waktu yang sama orang lain pun menghendaki kedudukan yang sama pula. Oleh karena itu, cinta dan rakus kepada dunia menguasai hati, dari keadaan yang seperti ini tidak boleh tidak, akan mendorong kepada perpecahan, hasut dan dengki.

Apabila kita lihat semua amal dan tindakan kita sekarang ini, sesuaikah dengan apa yang dilakukan dan dilalui oleh Imam ‘Ali kw.?

Ingatlah, ketika kita keluar dari dunia ini, niscaya akan didapati masih jauhnya dari corak kepemimpinan beliau. Dan ingatlah, bahwa kita harus bertabiat dan kembali kepada akhlak Islam, sekiranya kita ingin mengikuti langkah-langkah yang mulia itu. Pikirkanlah jalan yang akan menyelamatkan kita dari azab Allah sebelum kesempatan itu terlepas.

Ketahuilah bahwa perpecahan dan sikap bergolong-golongan seperti yang disebutkan tadi amat merugikan dan terhina. Sikap seperti ini adalah perbuatan keji, bahaya dan menghancurkan.

Adakah kita kini terlibat dengan perselisihan itu?

Adakah kelompok dan mazhab mempunyai berbagai perpecahan pula?

Kenapa kita tidak sadar?

Dan kenapa pula kita tidak saling ingat-mengingatkan serta tidak mewujudkan saling pengertian (kasih sayang) dan persaudaraan di kalangan kita?

Kenapa…?

Dan kenapa…?

Perpecahan ini sungguh berbahaya dan akan membawa kerusakan yang tidak dapat dielakkan lagi, akan menjadi perangkap besar kepada pusat-pusat pengkajian Islam. Keadaan yang demikian ini telah menghapuskan kedudukan di kalangan masyarakat dan merupaka bayangan di mata umat. Tidak diragukan, kondisi semacam ini tidak sekedar membahayakan dan memelaratkan kita, tetapi seluruh umat Islam turut terseret ke dalam perangkap ini.

Lebih jauh lagi keadaan semacam ini membahayakan Islam itu sendiri. Alangkah sedihnya sekiranya perbedaan dan krisis yang terjadi di kalangan kita itu membawa bahaya kepada umat Islam, niscaya kita akan terjerumus ke lembah dosa yang sulit diampuni. Karena ia merupakan sebesar-besar maksiat dan penentangan terhadap Allah. Disebabkan hal itu merusak masyarakat manusia dan membuka pintu yang seluas-luasnya kepada musuh-musuh Islam untuk menguasai umat dengan berbagai tipu daya mereka.

Semoga tangan-tangan keji tidak menyelusup ke dalam pusat-pusat pengkajian kita dan menanamkan benih-benih kemunafikan, perpecahan dan kekacauan di dalamnya. Anasir-anasir jahat itu tidak berupaya menghasilkan pemikiran-pemikiran yang rusak sehingga menjadi beban syariat bagi kita untuk menghadapi krisis dan perpecahan. Sehingga masing-masing golongan memandang golongan lain bertanggung jawab terhadap kerusakan dengan berdasarkan kaidah hukum syar’i.

Kondisi seperti ini memungkinkah musuh-musuh Islam menghancurkan cita-cita kita yang tunggal, yaitu membebaskan umat Islam. Ketahuilah bahwa mereka yang terdidik di pusat-pusat pengkajian Islam ini saja yang dapat menjawab persoalan ini.

Sesungguhnya menjadi kewajiban bagi kita untuk berhati-hati dan mengingat masalah ini, dan janganlah kita termasuk dalam perangkap setan, sehingga salah seorang dari kita berkata: “Sesungguhnya dari segi syariat saya diminta bertanggung jawab dalam masalah ini, sementara yang lain juga mengatakan bahwa secara syariat saya mempunyai tanggung jawab melakukan hal ini, yang bertentangan dengan pihak sebelumnya. Dengan demikian timbullah pertentangan dan pertarungan diantara kedua golongah. Dalam keadaan semacam ini, setan mengambil kesempatan untuk mengambil tanggung jawab syariat sendiri terhadap manusia dan melalaikan mereka dari tanggung jawab yang sebenarnya, dan dalam situasi yang lain hawa nafsu juga menguasai manusia.

Sesungguhnya tidak terdapat dalam hukum syara’ dan tidak pula menjadi kewajiban keagamaan, membolehkan seorang muslim menghina dan mencela muslim yang lain, atau seorang muslim memburuk-burukkan kita muslim yang lain dalam agama. Keadaan semacam ini tidak terdapat dalam hukum syariat Islam. Malahan itu merupakan ciri-ciri keciritaan dan kerakusan terhadap dunia yang juga disebut semangat keakuan dan mementingkan diri semata-mata. Lebih jauh lagi hal ini adalah pengaruh setan yang telah menyelusup di antara kita, sehingga menimbulkan keadaan yang kacau di antara kita. Permusuhan seperti ini bukanlah sifat orang-orang yang beriman, sebaliknya adalah sifat ahli neraka.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, yaitu pertengkaran penghuni neraka”. (QS. Shaad, 38: 64)

Neraka jahanam merupakan tempat yang layak bagi permusuhan dan pertengkaran, karena penghuni neraka saling bercakaran di antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, sekiranya kita bertentangan di dunia pada jalan yang batil, sudah barang tentu itu merupakan gambaran perjalanan yang sama, yang dilalui oleh para penghuni neraka jahanam.

Ahli Akhirat Jauh Berada Di Puncak Dan Mengawasi Kepentingan Dunia

Apakah kita ingin mengambil tempat mereka?

Sebenarnya dalam perkara-perkara yang berhubungan dengan akhirat tidak akan terdapat pertarungan dan perpecahan. Ahli akhirat jauh berada di puncak dan mengawasi kepentingan dunia, mereka hidup dalam suasana kasih sarang dan bersih di antara satu sama lain. Hati mereka dipenuhi dengan pancaran kasih kepada Allah semata. Oleh karena itu kecintaan kepada Allah ini menjadi sebab tabi’i (tabiat) yang membawa kecintaan hamba-hamba Allah kepada orang-orang yang beriman. Selanjutnya kasih sayang hamba-hamba Allah itu adalah di bawah naungan kasih sarang Allah Swt.

Sesungguhnya manusia akan terdorong memasuki api neraka jahanam karena amal-amalnya yang buruk, dan jalan hidupnya yang hina. Ya, amal orang-orang yang menyeleweng akan membawa mereka ke neraka. Rasulullah Saww. bersabda bahwa “Kami akan diberi ganjaran setelah menemui kematian dan kebinasaan. Apabila seseorang tidak melakukan sesuatu yang mendorong ia ke neraka jahanam, maka ia akan menghadapi berbagai ujian hidup, yakni melalui peringkat kehidupan yang sulit dan penuh ranjau.”

Sesungguhnya menerima dunia ini sama artinya menerima neraka dan bergelimang dalam apinya. Manusia tidak akan menyadari hakikat ini sampai ia berpindah ke alam akhirat. Pada waktu ini ia masih berpindah ke alam akhirat. la masih ditutup oleh hijab dan beberapa penutup. Setelah berpindah ke alam akhirat, ia baru akan memahami apa yang difirmankan oleh Allah:

“(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. AI-‘Imran, 3: 182)

Di sana juga mereka memahami firman Allah:

“Dan diletakkan kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya dan mereka berkata: Aduhai, celakalah kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar; melainkan ia mencatat semuanya. Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan itu tertulis. dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”. (QS. al-Kahfi, 18: 49)

Setiap apa yang dilakukan oleh manusia di dunia ini dan apa yang dilahirkan, akan dapat dilihat di akhirat nanti. Mereka akan melihat dengan nyata Allah berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah pun, niscaya ia akan melihat balasannya dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarrah pun. niscaya ia akan melihat juga balasannya”. (QS. az-Zalzalah, 99: 7-8)

Sebenarnya setiap amal manusia dan tindakan atau perbuatannya akan dibeberkan di sana seperti film yang menggambarkan dengan nyata keadaan di dunia dan pasti dipaparkan di akhirat nanti. Tidak ada seorang pun yang dapat menafikan segala tindakannya, karena yang kita lihat dihadapan kita kelak adalah amal-amal yang kita lakukan berdasarkan bukti yang diberikan oleh anggota-anggota panca indera kita sendiri yang menjadi saksi terhadap kita.

Allah berfirman:

“Kulit mereka menjawab: ‘Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berbicara telah menjadikan kami pandai berkata (pula)’”. (QS. Fushshilat, 41: 21)

Di sana kita tidak bisa mengingkari atau menafikan segala amal yang telah dilakukan. Sebab kita berada di hadapan Allah yang berkuasa menuturkan segal sesuatu dengan bJrupaya mengambil saksi dari segala sesuatu. Renungkanlah barang sejenak, bahwa kita akan berhadapan dengan yang mempunyai kekuasaan dan pandangan. Yang Mengetahui semua perkara. Ingatlah akibat buruk yang akan menimpa diri anda yang lalai dan janganlah kita lupa terhadap azab kubur, alam barzakh serta kedahsyatan yang ada di dalamnya. Beramallah dengan seolah-olah kita melihat neraka jahanam.

Sesungguhnya seseorang yang melihat adanya akibat buruk itu akan merubah corak hidupnya selama ini. Sekiranya kita benar-benar meyakini dengan mengakui perkara-perkara ini dan memperhatikan kehidupan kita sendiri derigan dasar apa yang dikehendaki dan sebagaimana yang dilukiskannya, semoga dapat menjaga seluruh amal dan perbuatan dalam rangka berusaha memperbaiki dan membersihkan diri dan ruhani.

Sumber: Buku Pesan Sang Imam

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *