Cobaan dan Penderitaan Seorang Mukmin Menurut Imam Khomeini Bagian I

Syiahindonesia.id – Muhammad ibn Ya’qub AI-Kulayni (semoga Allah meridhainya) meriwayatkan dari ‘Ali bin Ibrahim, dari Ayahnya, dari Ibn Mahbub, bahwasanya Abu ‘Abdillah as, (Imam Ja’far ash-Shadiq) berkata: “Sesungguhnya disebutkan dalam Kitab ‘Ali bahwa yang paling berat cobaannya di antara semua manusia adalah para nabi, dan setelah mereka adalah para washi, dan setelah mereka adalah orang-orang pilihan yang seperti mereka. Sungguh, orang Mukmin pasti mengalami cobaan sesuai kadar amal baiknya. Maka. orang yang baik agamanya dan baik pula amalnya, akan lebih berat cobaannya. Hal itu disebabkan Allah Swt. tidak menjadikan dunia ini sebagai tempat memberikan pahala bagi orang Mukmin dan tempat menyiksa orang kafir. Dan orang yang lemah imannya dan buruk amalnya, akan lebih ringan cobaannya. Sesungguhnya, cobaan itu menimpa orang beriman lebih cepat daripada air hujan yang turun ke bumi”

Sebagian orang mengataka bahwa nas (manusia) dalam hadisini dan sejenisnya berarti manusia yang sempurna (kamilun) seperti para nabi dan para washy, dan kenyataannya merekalah nas itu; sementara manusia lain adalah li aI-nas (untuk manusia), sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis. Bagaimana juga, sesungguhnya pengertian itu tidak tepat di sini dan tampak lebih tepat bahwa manusia dan orang secara umum yang diterapkan disitu. Ini terbukti dari hadis-hadis lain dalam Al-Kafi tentang masalah ini, dan bila dikatakan dalam beberapa hadis bahwa yang dimaksud dengan nas adalah kamilun, tidaklah berarti bahwa kata tersebut bermakna seperti itu di mana pun ia muncul. Lagi pula, bala berarti ujian dan cobaan, itu dapat terjadi pada manusia yang baik maupun jahat, para penyusun kamus telah menyatakan hal ini dengan tegas. AI-Jawhari, dalam AI-Shihah, mengatakan tentang hal ini dan Allah berfirman:

“Dan agar Dia menguji orang-orang Mukmin dengan ujian yang baik”. (QS. al-Anfaal, 8: 17)

Setiap cobaan Allah Swt. terhadap hamba-harnba-Nya adalah bala dan ibtila, apakah itu berupa penyakit berat atau ringan, atau kesengsaraan seperti kemiskinan, penghinaan, dan kehilangan keuntungan-keuntungan duniawi; atau yang berlawanan dengan itu, seperti kekuasaan dan kebesaran, kekayaan, ketinggian status, kehormatan, dan lain sebagainya. Tetapi, dalam konteks di atas, bilaman bala, baliyyah atau ibtila dan yang seperti itu disebutkan, maka jenis pertamalah yang dimaksudkan.

Amtsal artinya “Iebih mulia dan lebih baik”. Maka dalam frase berarti bahwa orang yang lebih baik dan lebih mulia setelah para nabi dan para washiy pasti menghadapi tingkatan ujian yang lebih keras. Derajat kerasnya bala adalah sejajar dengan derajat amal salehnya. Pernyataan seperti ini tidak ada dalam bahasa Persia.

Sukhf berarti “kelemahan fakultairasional” atau “kebodohan”, seperti disebutkan AI-Shihah dan karya-karya leksikografi lainnya. Qarar artinya “tempat yang tenang”, seperti disebutkan dalam kamus-kamus, analogi itu maksudnya adalah sebagaimana bumi adalah tempat tinggal bagi penderitaan dan kesengsaraan, yang menerpanya dengan cepat, menetap dalam dirinya, dan tak lepas darinya. []

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *