Alasan Sa’ad bin Abi Waqas Tidak Mencemooh Imam Ali

Syiahindonesia.id — Sa’ad bin Abi Waqas merupakan salah seorang panglima perang terkenal di masa awal Islam. Semasa pemerintahan Imam Ali, ia menarik diri hidup tanpa tidak berpihak kepada siapapun (baik kepada Imam Ali maupun Muawiyah).

Saat Muawiyah berkuasa, ia memaksa seluruh muslimin mengutuk Imam Ali. Namun Sa’ad bin Abi Waqas sama sekali tidak bersedia mengutuk beliau.

Suatu hari Muawiyah berjumpa dengan Sa’ad dan bertanya, “Mengapa engkau enggan mengutuk Abu Turab (julukan Imam Ali)?”

Sa’ad menjawab, “Aku teringat tiga perkara yang disabdakan Rasulullah saww mengenai peribadi Ali bin Abi Thalib. Karena itulah saya enggan mengutuk dan mencemoohnya. Bila salah satu dari ketiga perkara itu ada pada diri saya, maka itu jauh lebih berharga dari semua unta merah.”

“Pertama, saya mendengar Rasulullah saww, pada perang Tabuk, menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai wakil beliau saww di Madinah, sementara beliau saww sendiri yang berangkat ke Tabuk bersama kaum muslimin. Wwaktu itu Ali menemui Rasulullah saww dan berkata, ‘Wahai Rasulullah saww, apakah Anda akan membiarkan saya tinggal diam di madinah bersama para wanita?’ Rasulullah saww menjawab, ‘Tidakkah engkau merasa senang bila kedudukanmu di sisiku tak ubahnya kedudukan Harun di sisi Musa, namun tak ada nabi setelahku?’”

“Kedua, pada peristiwa perang Khaibar. Saya mendengar Rasulullah saww bersabda, ‘Aku akan berikan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia dicintai Allah dan Rasul-Nya.’ Kemudian beliau saww memerintahkan memanggil Ali bin Abi Thalib dan menyerahkan panji itu kepada Ali yang kemudian berhasil menaklukkan Khaibar.”

“Ketiga, menurut ayat mubâhalah, Ali dianggap sebagai jiwa Rasulullah saww. Dalam peristiwa ketika para utusan Nasrani berdialog dengan Rasulullah saww namun mereka tetap enggan memeluk Islam, maka sesuai perintah Allah, Rasulullah saww mengajak mereka melakukan mubâhalah (beliau saww menyabdakan kepada mereka untuk membentuk dua kelompok yang saling berhadap-hadapan dan saling mengutuk, sehingga Allah menurunkan azab-Nya kepada kelompok yang sesat dan menyimpang) sebagaimana diabadikan dalam al-Quran; ‘Marilah kita memangil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubâhalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.’ (Âli Imrân:16) Lalu Rasulullah saww membawa Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husain ke padang pasir untuk bersama-sama melakukan mubâhalah, seraya menegaskan, ‘Mereka adalah Ahlul Bait (keluarga)ku.’

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah saww menganggap Ali bin Abi Thalib sebagai diri dan nyawa beliau sendiri.”[]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *