Mengenal Allah (Ma’rifatullah)

Mengenal Allah (Ma’rifatullah)

“ Pondasi pertama agama adalah ma’rifatullah “

(Imam Ali bin Abi Thalib as.)*

Sesungguhnya pengetahuan tentang ketuhanan ( ma’rifatullah) merupakan pengetahuan yang paling tinggi dan mulia, juga paling bernilai. Lebih dari itu, proses integritas diri manusia yang haqiqi tidak mudah untuk dicapai tanpa ma’rifatullah, karena sesungguhnya kesempurnaan haqiqi bagi manusia terletak pada kedekatannya dengan Allah swt. Sementara itu, sangat jelas bahwa tidak mungkin seseorang dekat dengan Allah swt. tanpa mengenalNya. Berkenaan dengan semua itu, para manusia suci, yaitu Rasulullah saww. dan Ahlul baitnya as. menjelaskan kepada kita keutamaan-keutamaan  ma’rifatullah, di antara penjelasan mereka itu adalah,

Rasulullah saww. bersabda;

Jika kalian mengenal Allah dengan ma’rifah yang sesungguhnya, niscaya kalian dapat berjalan di atas laut dan gunung-gunung akan hancur dengan doa kalian “.

“ Orang yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling takut kepadaNya “.

Imam Ali bin Abi Thalib as. Berkata,

Orang yang paling mengetahui Allah adalah orang yang sering memohon kepadaNya “.

Ma’rifatullah adalah pengetahuan yang paling tinggi “

“ Barangsiapa mengenal Allah, maka sempurnalah pengetahuannya

Imam Ja’far al Shadiq as. Berkata,

Orang yang ber-ma’rifah, badannya bersama makhluk, tapi hatinya bersama Allah. Andaikan hatinya lengah dari Allah barang sekejap mata, niscaya dia akan karena rindu kepadaNya “.

dan ucapan mereka lainnya yang banyak sekali.

 

Sebab-sebab ma’rifatullah

Terdapat beberapa sebab dan alasan mengapa manusia ber-ma’rifatullah, antara lain adalah;

1.Dorongan Fitrah.

Fitrah adalah sebuah kondisi internal jiwa pada setiap manusia yang pada haqiqatnya ia cenderung ber-ma’rifatullah. Allah swt. berfirman, “ Maka hadapkanlah wajahmu ke arah agama dengan lurus. Itu merupakan fitrah Allah yang Dia menciptakan manusia atas dasarnya “. (SQ. Al Rûm 30).

Para ulama Ahlul Bait dalam berbagai keterangan mereka menguraikan haqiqat fitrah dengan uraian berikut ini;

a.Fitrah adalah kecenderungan pada intelektual atau rasa ingin tahu ( hubb al istithla’).

Pada diri setiap manusia terdapat perasaan ingin mengetahui segala sesuatu, atau yang biasa  disebut dengan rasa penasaran terhadap sesuatu yang belum diketahui olehnya. Kenyataannya ini merupakan ciri khas manusia, dan tidak terdapat pada makhluk lainnya di bumi ini. Karena fitrah ini lah, manusia selalu berpikir, belajar, mengadakan penelitian dan berpetualang, dan buah dari fitrah ini, manusia mengalami kemajuan dalam bidang pengetahuan dan tekhnologi.

Lebih dari itu, manusia juga tergoda untuk mengetahui hal-hal yang bersifat metafisikal (ghayb) yang non materi. Proses pencarian tentang sesuatu yang metafisik telah berlangsung sejak manusia itu ada di permukaan bumi ini. Sejarah kehidupan manusia, yang paling primitif sekalipun, tidak terlepas dari keyakinan adanya sesuatu yang metafisik yang tidak terjangkau oleh indera manusia. Kemudian mereka berupaya untuk mengadakan hubungan dengan sesuatu yang ghayb itu melalui berbagai cara dan media.

Atas dasar fakta itu, manusia pada dasarnya adalah makhluk yang bertuhan atau dengan kata lain, dalam diri manusia ada sebuah keyakinan atau rasa bahwa ada sesuatu di alam sana yang tak terjangkau oleh indera. Tentu keyakinan atau perasaan seperti ini pada setiap manusia berbeda-beda sebagaimana tingkat pengetahuan mereka tentang alam materi juga berbeda-beda. Perbedaan ini tergantung pada besar dan kecilnya kecenderungan pada inetelektual dan rasa ingin tahu dalam diri setiap manusia.

 

b.Fitrah adalah kecenderungan untuk mendapatkan kesenangan dan menghindari kesengsaraan. Setiap manusia mengingingkan kehidupan yang bahagia dan menyenangkan serta berupaya menghindari kesengsaraan dan bahaya. Namun, kenyataannya dalam kehidupan di dunia ini manusia selalu menghadapi bahaya atau mengalami peristiwa yang membuatnya sedih dan menderita. Kemudian  kebahagiaan dan kesenangan tidak selalu menghampirinya.

Dengan penjelasan lain, sesungguhnya terdapat sebuah dilema yang dihadapi oleh manusia, yaitu pada satu sisi, adanya keinginan dan kecenderungan dari dalam dirinya untuk hidup bahagia dan jauh dari kesengsaraan, dan pada sisi yang lain, dalam kehidupan di dunia ini manusia selalu menghadapi kesedihan, penderitaan dan bahaya. Lantas mungkinkah manusia mendapatkan kecenderungan fitrahnya itu ? Kalau mungkin, gerangan dia mendapatkan kebahagian itu ?

Karena fitrah ini lah manusia meyakini bahwa kehidupan tidak berhenti dengan kematian di dunia ini saja, karena kebahagiaan yang abadi tidak didapatkan di dunia. Ketika manusia terus mengejar tuntutan fitrahnya, maka dia akan berakhir dengan keyakinan adanya alam setelah kematian, dan keyakinan akan adanya alam pasca kematian merupakan bagian dari ma’rifatullah.

Al Qur’an menjelaskan bahwa fitrah ma’rifatullah biasanya muncul ketika manusia mendapatkan kesulitan. Allah swt. berfirman,

“ Ketika ombak menimpa mereka laksana seperti gunung., maka mereka memanggil Allah sambil menyerahkan ketatatan padaNya deng tulus “. (Luqmân 32)

“ Dan jika kesulitan menerpa manusia, maka dia memanggil Kami saat berbaring atau duduk atau berdiri. Namu ketika Kami angkat darinya kesulitannya, maka dia akan berlalu seakan-akan tidak memanggil Kami saat kesulitan menerpanya “. ( Yûnus 12)

Dan secara spesifik dalam surat Yunus ayat 90, al Qur’an menceritakan tentang Fir’aun yang sudah terdesak dan saat menjelang kematiannya. Dia menyatakan keimanannya pada Allah swt.

c.Fitrah adalah keinginan untuk berkomunikasi dengan sesuatu yang  ghayb (atau alam metafisik). Kenginan ini merupakan lanjutan dari keyakinan adanya sesuatu di alam sana, sebagaimana dijelaskan pada makna fitrah yang pertama. Kemudian keinginan ini diwujudkan dalam bentuk peribadatan. Sejarah manusia dengan berbagai bangsa dan dalam kurun waktu yang panjang penuh dengan aneka bentuk peribadatan terhadap hal-hal yang ghaib. Bentuk-bentuk ibadah dan aturan-aturannya disebut dengan agama. Karena itu, beragama merupakan bagian dari fitrah manusia.

Selain tiga bentuk tadi, terdapat bentuk-bentuk lain dari fitrah seperti, menyukai keindahan, kesempurnaan, kebaikan dan kebenaran. Ringkasnya, fitrah adalah kekuatan dan potensi yang baik dalam diri manusia; “ Celupan Allah dan siapa yang celupannya lebih baik dari Allah, dan kepadaNya kami menyembah”. (al Baqarah 138)

Sesungguhnya ketika manusia memberdayakan dan mengembangkan kekuatan dan dorongan fitrahnya dengan baik, maka dia menjadi manusia yang sempurna dan dia telah mewujudkan drinya secara sah sebagai khalifatullah di bumi, dan sebenarnya karena itu lah manusia diciptakan;  “ Sesungguhnya Aku hendak menciptakan khalifah di bumi “.(al Baqarah 30)

Perlu diketahui bahwa meskipun setiap manusia mempunyai fitrah, namun dorongan fitrah ini terkadang kuat dan terkadang lemah, dan kekuataanya pada setiap manusia tidak sama. Kuat dan lemahnya fitrah serta perbedaannya pada manusia bisa jadi karena lingkungan kognitif manusia atau karena kesibukannya dengan urusan dunia. Karena itu, terkadang muncul dorongan yang kuat pada manusia untuk belajar dan  beribadah, dan terkadang dorongan itu melemah atau bahkan nyaris hilang.

 

  1. Tuntutan Akal.

Selain dibekali dorongan fitrah, manusia juga dianugerahi akal oleh Allah swt. Jika dengan fitrahnya, manusia menyukai keindahan dan kebaikan serta cenderung pada pengetahuan, maka dengan akalnya manusia dapat menilai kebaikan, keindahan, manfaat dan madharrat. Dua kekuatan ini saling melengkapi. Jika manusia hidup hanya dengan fitrahnya saja, maka dia menjadi manusia yang baik, tapi belum tentu benar. Demikian pula, jika dia hanya menggunakan akalnya saja, maka dia menjadi orang yang benar, tapi belum tentu menjadi orang yang baik. Fitrah bersifat mendorong manusia untuk belajar, melakukan kebaikan dan menyukai keindahan dan kesenangan, sedangkan akal mengajak manusia untuk berpikir dan mencari kebenaran.

Dari sejak zaman dahulu, manusia berpikir bahwa alam ini tidak mungkin ada dengan sendirinya, karena apa yang ada di alam ini mempunyai permulaan dan akhir. Kenyataan terjadi pada semua bagian yang ada di alam ini. Kemudian mereka menyimpulkan bahwa alam ini pasti ada yang menciptakannya, dan penciptanya tidak mungkin seperti alam ini yang mempunyai permulaan dan akhir.

Dengan daya-pikir akal itu, manusia meyakini bahwa ada sebuah kekuatan di belakang alam ini dan Ia sekaligus yang menciptakan dan menggerakan alam ini. Kesimpulan ini diyakini oleh banyak manusia dari berbagai bangsa sejak kurun awal terciptanya manusia. Selama manusia menggunakan daya-akalnya yang sehat dan jernih, maka dia dengan mudah meyakini adanya Tuhan Sang Pencipta. Imam Ali bin Abi Thalib as. berkata, “ Sebaik-baiknya akal adalah mengenal al Haq (ma’rifatullah) dengan dirinya sendiri “ ( Mîzân al Hikmah 6/434)

Seiring dengan perkembangan daya pikir-akal, lahirlah para filusuf dan teolog besar. Mereka dengan apik dan mapan menyusun berbagai argumentasi rasional dan filosofis yang kokoh dan tak terbantahkan dalam membuktikan adanya Tuhah Sang Pencipta alam semesta. Sesungguhnya dengan bukti-bukti rasional (aqli), manusia berkeyakinan bahwa keberadaan (wujud) Tuhan merupakan sesuatu yang aksioma, pasti dan niscaya (badîhî).

Sebagaimana dorongan fitrah yang sering diabaikan oleh manusia, demikian pula tuntuan akal jarang dipertimbangkan oleh manusia dalam berbagai urusan, sehingga munculah pemikiran-pemikiran yang menyimpang dan agama-agama yang tidak rasional. Bahkan dalam tataran prilaku manusia, perselisihan dan peperangan terjadi di tengah umat manusia dikarenakan akal tidak dilibatkan.

Akal yang kritis meyakini adanya Sang Pencipta di belakang alam raya ini. Sang Pencipta ini tidak mungkin sama dengan setiap bagian yang ada di alam ini, baik bentuk maupun jumlahnya. Jika alam ini berupa materi yang membutuhkan waktu dan tempat, maka Penciptanya bukanlah materi. Jika alam ini banyak, maka Penciptanya tidak mungkin berjumlah, melainkan Ia Maha Esa dan Maha Tunggal, dan lain sebagainya dari sifat-sifat dan ciri-ciri Tuhan.

Keyakinan tentang Tuhan dan sifat-sifatNya itu dapat dicerna oleh akal selama manusia secara fokus membahas tentang ketuhanan. Namun ketika manusia tidak terbiasa berpikir logis dan kritis, maka sulit untuk menyimpulkan sifat-sifat ketuhanan yang sempurna. Sebagai contoh, sebagian agama ada yang memvisualisasikan Tuhan seperti benda-benda yang ada di alam ini dalam jumlah yang banyak. Pemikiran dan ajaran ini muncul karena mereka tidak menggunakan daya kritis akalnya. Mereka menerima ajaran itu secara ikut-ikutan dan melanjutkan keyakinan leluhurnya. Al Qur’an menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim as. mengajak kaumnya agar berpikir kritis bahwa sesembahan mereka berupa patung adalah benda mati yang tidak bisa berbicara dan berbuat apa-apa, “ Dia berkata,Tetapi yang besar ini lah yang telah melakukan itu, maka tanyalah mereka jika mereka bisa berbicara “. (al Anbiya’ 63)

Al Qur’an sendiri dalam menjelaskan bahwa Tuhan itu Esa menggunakan pendekatan akal, seperti ayat yang berbunyi,

Katakanlah, seandainya di langit dan di bumi terdapat banyak tuhan selain Allah, niscaya keduanya telah hancur “. (al Anbiya’ 22)

 

Ayat-ayat dan Riwayat-riwayat tentang Fitrah dan Akal

Sebagai sebuah agama yang diturunkan oleh Allah swt. untuk manusia, Islam sangat memahami segala potensi dan kekuatan yang tersimpan dalam diri manusia. Karena itu, kita mendapatkan di dalam Qur’an maupun hadis pernyataan-pernyataan yang dengan jelas mengajak manusia agar memberdayakan dan mengembangkan potensi dirinya berupa fitrah dan akal.

Allah swt. berfirman,

1.“ Demikian itulah Allah menjelaskan kepada kalian tanda-tanda (kebesaran)Nya agar kalian berakal “.   ( al Baqarah 242)

2.“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit-langit dan bumi serta pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda (kebesaran) bagi orang-orang yang mempunyai akal “. ( Âli ‘Imrân 190)

  1. Dan mereka berkata, “ Seandainya dulu kita mendengar atau berpikir, maka kita tidak berada bersama para penghuni neraka “.( al Mulk 10)

4.“ Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga mereka memiliki akal yang mereka gunakan untuk berpikir “. (al Hajj 46)

5.“ Dan itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami berikan untuk manusia agar mereka berpikir “. ( al Hasyr 59)

6.“ Sesungguhnya pada itu terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai akal “.( Qâf 37)

 

Rasulullah saww. bersabda,

1.“ Tidaklah Allah memberikan kepada hamba-hambaNya sesuatu yang lebih baik dari akal. (karena itu) tidurnya orang yang berakal lebih baik dari begadangnya orang yang bodoh. Tidak lah Allah mengutus seorang Nabi maupun Rasul kecuali untuk menyempurnakan akal. Tidaklah para ahli ibadah mencapai keutamaan ibadah seperti apa yang dicapai oleh orang yang berakal “. (Al Kâfî 1/13)

2.“ Sesungguhnya semua kebaikan hanya diketahui dengan akal, dan tidak lah beragama orang yang tidak berakal “. ( Mîzân al Hikmah 6/401)

3.“ Jika sampai kepada kalian tentang seorang yang baik keadaannya, maka perhatikanlah kebaikan akalnya, karena sesungguhnya dia akan diberi balasan berdasarkan akalnya “. ( Mîzân al Hikmah 6/399)

4.“ Mintalah kalian petunjuk dari akal, maka kalian akan lurus, dan janganlah melanggarnya, maka kalian akan menyesal “.( Mîzân al Hikmah 6/404)

 

Imam Ali bin Abi Thalib as. berkata,

1.“ Orang yang berakal mengejar kesempurnaan, sedangkan orang yang bodoh mengejar harta “ ( Mîzân al Hikmah 6/414)

2.“ Orang yang berakal itu  jika diam,dia berpikir, jika berkata, dia berzikir dan jika melihat, dia mengambil pelajaran “. (Mîzân al Hikmah 6/414)

 

Imam Hasan al Mujtaba as. berkata,

1.“ Pondasi manusia adalah akal. Termasuk bagian dari akal adalah kecerdasan, pemahaman, ingatan dan pengetahuan. Jika akalnya didukung oleh cahaya, maka dia menjadi orang yang berilmu, pengingat, bersih dan pandai. Dengan akal lah manusia menjadi sempurna. Ia menjadi petunjuknya, pembimbingnya dan kunci urusannya “. ( Mîzân al Hikmah 6/402)

Imam Musa al Kadzim as. berkata,

2.“ Sesungguhnya Allah mempunyai dua bukti atas manusia; bukti lahir (eksternal) dan bukti batin (internal). Bukti lahir itu ialah para Rasul, Nabi dan Imam, sedangkan bukti batin itu ialah akal ” (Mîzân al Hikmah 6/402)

Masih banyak lagi keterangan-keterangan dari al Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad saww. juga ungkapan para Imam Ahlul bait as. tentang fitrah dan akal.

 

Egoisme dan Cinta Dunia vs  Fitrah dan Akal

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa dalam diri setiap manusia terdapat dua kekuatan dan potensi yang besar; fitrah dan akal. Namun, sedikit sekali dari manusia yang berhasil memberdayakan dua kekuatan itu, sehingga banyak dari mereka yang terhambat dalam meniti jalan kesempurnaan diri dengan menggapai nilai-nilai insani dan curahan-curahan Ilahi. Banyak hambatan yang merintangi perkembangan fitrah dan akal, dan semua hambatan itu berasal dari dua sumber, yaitu egoisme dan cinta dunia.

Yang menarik, manusia tercipta dari dua unsur itu; unsur ruh Ilahi yang berwujud fitrah dan akal, dan unsur tanah yang menjelma menjadi nafsu dan hasrat. Fitrah dan akal merupakan curahan dari ruh Ilahi yang suci dan bersih, “ Maka ketika Aku tuntaskannya dan Aku tiupkan di dalamnya sebagian dari ruhKu, maka bersujudlah kalian padanya “ (al Hijr 29). Sedangkan egoisme dan cinta dunia merupakan bawaan dari unsur tanah yang hitam dan kotor, “ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam “. (al Hijr 26).

Kedua unsur ini; ruh Ilahi dan tanah, tidak akan hilang dari dalam diri manusia selama dia berada di dunia, tetapi keduanya saling tarik menarik dan bertempur untuk saling menguasai. Berkaitan dengan ini, Imam Ali bin Abi Thalib as. berkata,

Akal pemandu tentara Rahman, sedangkan nafsu komandan tentara setan. Jiwa manusia terombang-ambing di antara keduanya. Mana yang menang di antara keduanya, maka jiwa itu berada dalam kekuasaannya “.( Mîzân al Hikmah 6/405)

Manusia yang memenangkan fitrah dan akalnya, dia tetap memiliki nafsu dan hasrat duniawi, namun nafsu dan hasratnya dikendalikan oleh fitrah dan akalnya, dan digunakan untuk pengembangan dan kesempurnaan dirinya. Sementara manusia yang mengedepankan ego dan nafsunya, maka dia menjadikan fitrah dan akalnya untuk memenuhi hasrat nafsunya. Manusia seperti ini, menurut al Qur’an, lebih rendah dari binatang,

Mereka mempunyai hati (akal) yang tidak mereka gunakan untuk berpikir, mereka mempunyai mata yang tidak mereka gunakan untuk melihat dan mereka mempunyai telinga yang tidak mereka gunakan untuk mendengar. Mereka sperti bintang ternak, bahkan mereka lebih rendah. Mereka adalah orang-orang yang lalai “. ( al A’râf 179)

Egoisme dan cinta dunia dibutuhkan oleh manusia demi melangsungkan kehidupan di dunia saja. Selain itu, manusia harus mengikuti dorongan fitrah dan tuntutan akal untuk mengangkat harkat diri agar dekat dari Allah swt., bahagia di dunia dan selamat di akhirat. Orang yang beriman adalah orang yang menjadikan akal sebagai pemimpin dirinya, dan fitrah sebagai pendorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan.

 

  1. Petunjuk dan Peranan Agama

Hal yang harus disadari oleh manusia adalah bahwa fitrah dan akal saja tidak cukup untuk mengantarkannya kepada Allah swt. Manusia membutuhkan bimbingan dari para utusan Allah swt.  oleh karena itu, selain mengajak manusia agar mengikuti dorongan fitrah dan tuntutan akal, Islam juga mengarahkan manusia agar mentaati agama Allah swt. Islam merupakan formulasi yang dibuat oleh Allah swt. untuk mengatur kehidupan manusia agar bahagia di dunia dan selamat di akhirat melalui serangkain hukum dan aturan yang lengkap dan sempurna, “ Hari ini Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan Aku lengkapkan atas kalian kenikmatanKu. Aku rela untuk kalian Islam sebagai agama “ (al Mâidah 3), dan untuk menghidupakan jiwa manusia, “ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul jika mengajak kalian pada sesuatu yang menghidupkan kalian “. (al Anfâl 24)

Dengan demikian, Islam adalah agama yang selaras dengan fitrah dan akal, dan tidak bertentangan dengannya. Dengan kata lain Islam adalah agama fitri dan rasional. Berkaitan dengan ini, Imam Ali bin Abi Thalib as. berkata, “

Lalu Allah mengutus di tengah mereka utusan-utusanNya dan mengirimkan kepada mereka nabi-nabiNya untuk menagih dari mereka agar melakukan perjanjian fitrahNya, mengingatkan mereka kenikmatanNya yang terlupakan, menyampakan bukti kepada mereka dengan tablig, dan membongkar simpanan-simpanan akal mereka “. ( Nahj al Balâghah, khutbah 1)

Lebih dari itu, dalam pandangan Islam fitrah dan akal saja tidak cukup untuk mengantarkan manusia pada kesempurnaan diri. Allah swt. berfirman,

Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan , “Tidak ada yang datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sungguh, telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”( QS 5 : 19)

Jelas bahwa jika rasionalitas dan intelektualitas  adalah cukup, niscaya Tuhan akan berkata: Kami telah memberikan akal kepadamu dan Kami telah sempurnakan hujjah atasmu (dengan akal tersebut); bukannya Tuhan berbicara tentang pengiriman rasul-rasul As.

Dalam ayat lain, Allah swt. bahwa Dia sama sekali tidak akan mengazab seseorang kecuali sebelumnya Dia telah mengutus seorang nabi:“ Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”   ( QS 17: 15).

Tuhan mencela golongan orang yang mencukupkan diri mereka dengan rasionalitas dan intelektualitas manusia dan tidak mengacuhkan pengajaran wahyu Ilahi, dan mengunggulkan kestatisan tabiat daripada kedinamisan metafisik, Tuhan sangat tidak menyukai mereka: “Maka ketika para rasul datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka merasa senang dengan ilmu yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh (azab) yang dahulu mereka memperolok-olokkannya”.( QS 40 : 83)

Oleh karena itu, Allah swt. menurunkan agamaNya melalui para Nabi as. Mereka hadir di tengah umat manusia dari sejak awal penciptaan manusia hingga kurun-kurun berikutnya untuk mengajarkan mereka kebenaran dan kebaikan dan meluruskan penyimpangan-penyimpangan mereka yang muncul karena kebodohan dan nafsu mereka. Allah swt. berfirman,

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.” [QS. 40:78]

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu””, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” [QS. 16:36]

Disebutkan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad saww. bahwa jumlah para nabi sebanyak 124.000, dan jumlah para rasul sebanyak 312. Ketika Rasulullah saww. ditanya tentang jumlah para nabi, beliau menjawab, seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.” “Lalu berapa jumlah Rasul diantara mereka?” Beliau menjawab, “Tiga ratus dua belas(312)” ( Hadits riwayat At-Turmuzy).

Kemudian apa saja peranan agama Islam dalam membina umat manusia demi mencapai kesempurnaan diri mereka ? Berikut ini adalah beberapa peranan agama;

 

a.Mengajarkan Ilmu dan Makrifat.

Al Qur’an menyebutkan bahwa pengajaran dan tarbiyah merupakan tujuan dari pengutusan para Nabi dan Rasul as.

Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan apa yang tidak mampu kamu ketahui.”( QS 2:51)

Juga dalam ayat-ayat yang pertama kali turun disebutkan, “ (Dia) mengajarkan manusia apa yang tidak dia ketahui “. (al ‘Alaq 5).

Ungkapan yang berbunyi, “Dan mengajarkan kamu apa yang tidak mampu kamu ketahui”  ingin menyatakan tentang keberadaan suatu pengetahuan dan hakikat yang tidak terjangkau oleh intelek dan pikiran manusia dengan segala kemajuannya dalam pengetahuan, ilmu, dan teknologi, tapi hakikat-hakikat tersebut hanya dapat diketahui lewat jalan kenabian dan wahyu. Jika tidak ada Nabi dan Rasul yang diutus Tuhan maka akal dan pikiran manusia yang paling pertama sampai yang paling akhir tidak akan sanggup mengkonsepsi dan mengetahui hakikat samudera tauhid dan maad yang sangat dalam.

 

b.Meluruskan Pemikiran dan Aqidah.

Allah swt. berfirman, “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus ”.( QS 42:52)

c. Menanamkan akhlak yang mulia.

Sebagai upaya untuk mengantarkan manusia ke jenjang-jenjang kesempurnaan, manusia harus berangkat dari akhlak yang mulia. Tanpa akhlak, manusia tidak mungkin mencapai kesempurnaan dirinya. Untuk itu, agama Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap akhlak. Nabi Muhammad saww. bersabda, “ Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia “. Beliau sendiri merupakan sosok manusia yang sempurna dan pemilik akhlak yang agung, “ Sesungguhnya engkau berada pada akhlak yang agung “. ( QS 68 : 4 )

d. Menegakkan Keadilan

Tegaknya keadilan di tengah-tengah masyarakat merupakan cita ideal setiap insan yang mendambakan keselamatan dan kebahagiaan di dunia. Karena itu salah satu tujuan penting dari bi’tsah adalah untuk tegaknya keadilan dalam masyarakat manusia: “Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan Mizan (keadilan) agar manusia menegakkan keadilan”.(QS 57 : 25 ).

Maksud dari “Bukti-bukti nyata” adalah persepsi dan konsepsi akal yang sahih dan ilmiah dan juga mukjizat para nabi As serta karamah-karamah amali para wali Tuhan. Demikian pula maksud dari“Kitab” adalah makrifat, hukum dan undang-undang, akidah, akhlak, dan ilmu-ilmu lainnya. “Neraca”atau “Mizan” yang benar juga menyertai Kitab yang di bawa para nabi As, dan tidak satupun mizan yang lebih akurat daripada sirah, cara, dan metode amaliah maksum dari para nabi dan para imam as.

e. Menyelamatkan Manusia dari Kegelapan

Diantara peranan agama adalah melepaskan dan menganggkat manusia dari jurang kegelapan menuju lembah cahaya, Tuhan berfirman: “…(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.”(QS 57: 25)

Kejahilan ilmu dan amal, keduanya adalah kegelapan; orang jahil yang durjana dan orang alim yang fâjir, keduanya terperangkap timbunan kegelapan dan mengklaim diri mendapat petunjuk tanpa dalil ilmu dan bukti amal adalah bentuk keterselimutan dalam kegelapan yang tebal. Satu-satunya perahu keselamatan dan pelita hidayah adalah misykât kenabian, dimana ia akan memberangkatkan manusia dari istana ego menuju tempat kerja taklif dan kehambaan pada Tuhan dan menerangi hati-hati gelap serta menyusulkan orang-orang sesat kepada para penapak jalan cahaya.

f. Mengajak Manusia Menyembah Tuhan Yang Esa

Allah swt. berfirman, “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Tagut”, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).”(QS 16 : 36 ).

Berkenaan dengan peranan ini, Imam Ali bin Abi Thalib as.berkata, “ Tuhan mengutus para nabi supaya hamba-hamba-Nya yang tidak mengetahui makrifat ketuhanan, mempelajarinya (dari para nabi), dan supaya mereka beriman kepada Tuhannya dan mengesakan-Nya, sesudah mereka ingkar dan ‘inad terhadap-Nya “.(Bihârul Anwâr 4/287)

Sesungguhnya fokus asli dakwah para nabi As adalah menjaga tauhid fitri dan menolak segala bentuk penyekutuan Tuhan.

g. Menghakimi dan Memutuskan Perselisihan.

Agama ikut serta menghakimi dan menghilangkan perselisihan di antara masyarakat. Allah berfirman, “ Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan dan Dia menurunkan bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan”.(QS 2 : 213)

  • Husein Muhammad Alkaff

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *