MENGENANG IMAM HASAN :MENOLAK KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN

Syiahindonesia.id – ‘Tidak sama perbuatan yang baik dengan perbuatan yang jahat, tolaklah [kejahatan] dengan apa yang baik, maka orang yang ada permusuhan dengan engkau akan menjadi sahabat yang karib’ (Q.S. Fushilat : 34)
———————————

Seseorang berasal dari Syria datang ke Madinah untuk menziarahi makam Rasululah saaw. Saat berziarah, dia melihat seorang penunggang kuda yang begitu mulia dan hebat serta menarik perhatian. Penunggang kuda itu diikuti oleh pengikutnya dari segala arah, dengan sabar menunggu arahan dari beliau.

Orang Syria itu merasa heran karena terdapat orang selain dari Khalifah Muawiyah yang dikelilingi dan dimuliakan oleh masyarakat. Dia diberitahu bahwa penunggang tersebut adalah al-Hasan ibn Ali ibn Abu Talib. ‘Apakah dia anak Abu Turab, Khariji?! Dia bertanya kepada oarang-orang tersebut. “Benar!” jawab para sahabat Imam Hasan al-Mujtaba.

Mendengar hal itu, diapun kemudian melaknat dan menghina Imam Hasan as, dan ayahandanya al-Imam Ali bin Abi Thalib. Sahabat-sahbat Imam Hasan marah dan menghunus pedang mereka untuk membunuh orang Syria itu, tetapi mereka dilarang oleh Imam Hasan. Tidak hanya itu, Imam Hasan turun dari kudanya, menyambut dengan mesra orang Syria itu, dan dengan cara teramat sopan bertanya kepadanya, ‘Kelihatan anda adalah orang asing di daerah ini?’ ‘Ya’ orang Syria itu menjawab. ‘Saya dari Syria, dan saya adalah pengikut amirul mukminin Muawiyah ibn Abu Sufyan. Sekali lagi al-Hasan menyambutnya dan berkata kepadanya, ‘Kamu adalah tamu saya,’ tetapi orang Syria itu menolak, Namun Imam Hasan terus mendesak untuk menjadi tuan rumah sehingga dia setuju.

Imam Hasan melayani orang tersebut (kebiasaannya selama tiga hari) dengan pelayanan yang terbaik. Pada hari keempat, orang Syria itu mulai menunjukkan tanda-tanda penyesalan dan bertaubat atas kelakuannya yang telah menghina Imam Hasan bin Ali bin Abi Talib. Dia teringat bagaimana dia telah menyumpah dan menghina beliau, sedangkan beliau disini terlalu baik dan pemurah. Dia meminta Imam Hasan dan bermohon kepada beliau untuk memaafkan segala kelakuannya yang lalu.

Dihadapan para sahabatnya, kepada orang Syiria tersebut, Imam Hasan bertanya : “Adakah kamu membaca al-Quran”? “Saya telah menghafal keseluruh teks al-Quran”, jawabnya.

Imam Hasan beratnya kembali : “Tahukah anda siapa Ahlul Bait yang mana Allah telah menghapuskan segala kekotoran dan yang telah disucikan dengan kesucian yang sempurna?”. Org Syiria itu menjawab : “Mereka adalah Muawiyah dan keluarga Abu Sufyan”. Mereka yang hadir disitu amat terkejut mendengar jawaban tersebut.

Imam Hasan tersenyum dan berkata kepada orang itu, ‘Saya adalah Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Ayah saya adalah sepupu dan adik Rasulullah saaw; ibu saya adalah Fatima az-Zahra sayyidat al-nisa al-alamin (pemimpin seluruh wanita di semesta alama); Datuk saya adalah Muhammad Rasululah saaw sayyid al-anbiya (pemimpin seluruh nabi). Paman saya adalah Hamzah dan Jafar al-Tayyar as-Syahid. Kami adalah Ahlul Bait yang Allah swt telah sucikan dalam kitabnya ‘Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya’ (Q.S. al-Ahzab : 33), dan Allah limpahkan kebaikan kepada kami. Pada kami lah Allah dan para malaikat-Nya berselawat, dan memerintahkan kaum Muslimin supaya berselawat kami, ‘Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bersalawat kepada Nabi, hai orang-orang beriman sampaikanlah salawat dan salam kepadanya’. Aku dan adik saya Husain as adalah pemimpin para pemuda di surga”, ungkap Imam Hasan as.

Kemudian Imam Hasan menjelaskan satu persatu kemuliaan Ahlul Bait Nabi saaw, dan mengenalkannya kebenaran kepadanya. Mendengar semua penuturan Imam Hasan as, orang Syria itu pun dapat melihat cahaya kebenaran, maka dia menangis dan terus mencium tangan Imam Hasan dan meminta maaf atas kesalahannya. Dia berkata, ‘Demi Allah, Tuhan yang Maha Esa! Saya memasuki Madinah dan tiada siapa dimuka bumi ini yang saya benci malainkan kamu, tetapi sekarang saya mencari kedekatan kepada Allah swt dengan mencintai kamu, patuh kepada kamu, dan menjauhkan diri dari mereka yang memusuhi kamu’

Imam al-Hasan menghadap kepada para sahabatnya dan berkata, ‘Apakah kamu mahu membunuhnya walaupun dia tidak bersalah? Jika dia telah mengetahui yang sebenarnya, tentu dia tidak menjadi musuh kita. Kebanyakkan Muslim di Syria adalah orang seperti dia yang mendapat informasi keliru. Jika mereka mengetahui informasi yang sebenarnya, mereka akan mengikutinya.’ Kemudian beliau membacakan ayat yang berbunyi: ‘Tidak sama perbuatan yang baik dengan perbuatan yang jahat, tolaklah [kejahatan] dengan apa yang baik, maka orang yang ada permusuhan dengan engkau akan menjadi sahabat yang karib’ (Q.S. Fushilat : 34)

Share Artikel Ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *