Wahabi Bukan Ahlu Sunnah dan Salafi

 

Syiahindonesia.id – Sebenarnya, aliran Wahabiah dan gerakan takfirilah pencegah utama persatuan umat Islam di dunia. Dalam dua tiga dasawarsa terakhir ini, aliran ini telah menggunakan segala cara untuk mewujudkan perpecahan di kalangan mazhab-mazhab Islam.

Salah satu cara Wahabiah untuk memecah belah umat Islam adalah merusak figur-figur persatuan umat Islam yang berpengaruh dari kalangan Ahli Sunah dan Syiah, serta memutarbalikkan pandangan-pandangan para ulama besar Ahli Sunah.

Satu program yang sekarang sedang diusahakan oleh aliran Wahabiah adalah menyusupkan kandungan tauhid takfiri Wahabi dalam frame tauhid pada pembesar dan imam Ahli Sunah seperti Imam Syafi’i, Imam Fakhrurrazi, dan lain-lain dan lantas menyebarkannya di kalangan negara-negara bermazhab Suni.

Hal ini sangatlah tidak aneh. Semua orang tahu, kemunculan Wahabiah terjadi lantaran penentangan Ibn Taimiah terhadap para pembesar Ahli Sunah seperti Imam Abu Hamid Ghazali dan Imam Fakhrurrazi. Bisa diklaimkan bahwa 99 persen karya Ibn Taimiah ditulis untuk menentang pandangan kedua pembesar Ahli Sunah tersebut. Pada hakikatnya, ia bangkit untuk menentang rasionalisme dan teologi.

Cara lain yang digunakan oleh aliran Wahabiah untuk memecah belah umat Islam adalah melemahkan hauzah-hauzah ilmiah Ahli Sunah dan menyusupkan kader-kader Wahabi ke dalam pesantren-pesantren ini.

Cara lain aliran ini adalah mendukung para menteri kebudayaan di seluruh negara untuk memboikot dan menekan Syiah. Wahabiah juga membagi-bagikan buku-buku metode dakwah di kawasan Ahli Sunah. Sudah banyak disertasi sehubungan dengan metode dakwah yang telah berhasil lulus sidang di perguruan-perguruan tinggi Arab Saudi. Setiap kali memasuki sebuah daerah, mereka mewarnai diri dengan keyakinan masyarakat daerah tersebut sehingga dapat menarik hati mereka dan lantas mendidik mereka sesuai dengan keyakinan takfiri. Lahan utama penerimaan ajaran takfiri ini adalah kebodohan mayoritas umat Islam.

Tipu muslihat lain yang digunakan oleh aliran Wahabiah untuk memecah belah umat Islam adalah menggunakan kata “Salafi” sebagai ganti “Wahabi”. Kata “Salafi” lantaran memiliki penisbahan terhadap salaf salih dan para pembesar Ahli Sunah di sepanjang sejarah memiliki nilai kultus di dunia Ahli Sunah. Sedangkan, kata “Wahabi” adalah sebuah kata yang baru muncul dan hanya memiliki penisbahan kepada Muhammad bin Abdulwahab. Masyarakat Ahli Sunah tidak pernah mau menerima kata ini. Untuk itu, mereka berusaha keras menyusupkan pemikiran Wahabi dalam frame indah Salafi dan disuguhkan kepada muslimin Ahli Sunah.

Sebenarnya, orang pertama yang menduniakan dan memediakan kata “Salafi” adalah Sayid Jamaluddin Asadabadi. Lantaran usaha keras yang telah dilakukan untuk pendekatan mazhab-mazhab Islam, ia di dunia Arab dikenal dengan sebutan Jamaluddin Afghani Salafi. Sekalipun kata ini sudah pernah ada dari sejak abad pertama dan kedua Hijriah, tetapai orang pertama yang memediakan kata ini adalah Jamaluddin Salafi.

Untuk itu, seluruh bangsa Arab dan muslimin dunia menghormati Jamaluddin dan Muhammad Abduh dengan sebutan “Salafi” dan menyebut kebangkitan mereka dengan sebutan “Harakat al-Salafiah”. Imam Hasan al-Banna ketika mendefinisikan gerakan Ikhwanul Muslimin menegaskan, “Nahni salafiyun (kita adalah Salafi).” Tetapi, arti Salafi dalam pernyataan Hasan al-Banna sangat berbeda dengan arti Salafi dalam bahasa sekarang.

Maksud Hasan al-Banna dari kata Salafi adalah kita adalah Ahli Sunah sejati dan kembali kepada ajaran Salaf, Al-Quran, dan Islam murni Muhammadi. Salafi dalam pernyataan Jamaluddin juga berarti kembali kepada Islam yang murni.

Pada masa Kebangkitan Masyruteh di permulaan abad ke-20, kata Salafi selalu dinisbahkan kepada para pembesar Dunia Islam seperti Imam Hasan al-Banna, Jamaluddin Asadabadi, Muhammad Iqbal Lahori, dan lain-lain. Kira-kira dari sejak periode Rasyid Ridha, ketika aliran Wahabiah memahami bahwa Dunia Islam sangat membenci kata Wahabi, mereka mengganti kata Wahabi dengan kata Salafi. Dengan demikian, penggunaan kata Salafi untuk keyakinan Wahabi kembali kepada permulaan abad ke-20. Sementara itu, dari sejak kemunculan aliran Wahabiah, kata Salafi tidak pernah berkonotasi dengan aliran Wahabi.

Sebenarnya, kita telah melakukan kesalahan besar ketika menyamakan kata Salafi dengan Wahabi. Mufti Agung Ahli Sunah di Suriah Syahid Allamah Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam buku “Salafiah, Bid’ah bukan Mazhab” menegaskan, kata Salafi sangat berbeda dengan Wahabi.

Salah satu faktor mengapa alirah Wahabiah mencatut kata Salafi adalah mereka tahu akan dapat menarik simpati Ahli Sunah dengan kata tersebut. Hal ini lantaran Wahabi hanya berhubungan dengan Muhammad bin Abdulwahab. Sedangkan kata Salafi berarti kembali kepada Islam murni Muhammadi. Atau menurut sebagian ulama, kembali kepada jati diri kita sendiri.

Pada permulaan abad ke-20, muslimin sangat terpengaruh oleh pemikiran Barat lantaran penjajahan. Untuk itu, Sayid Jamaluddin pernah memperingatkan supaya kita kembali kepada jati diri kita sendiri. Untuk tujuan ini, ia menggunakan kata Salaf; yakni kembali kepada Islam. Pada masa Hasan al-Banna juga demikian.

Pada masa sekarang tidak demikian. Dengan menyamakan arti Salafi dan Wahabi, kaum Wahabi mengklaim bahwa Hasan al-Banna adalah seorang Wahabi. Ini adalah sebuah distorsi besar dalam sejarah. Ketika Hasan al-Banna menyatakan diri sebagai Salafi, ia bermaksud menegaskan sedang berjalan di atas jalan yang telah ditempuh oleh Sayid Jamaluddin Asadabadi.

Kaum Wahabi sekarang sedang menyalahgunakan kata Salafi. Sedangkan Syahid Ramadhan al-Buthi pernah menegaskan, Salafi berarti kembali kepada jati diri kita sendiri, dan sangat berbeda dengan bid’ah yang telah dibuat oleh Wahabiah.

Dari sisi lain, aliran Wahabiah dengan mengaku diri sebagai Salafi ingin menunjukkan kepada Syiah bahwa ajarannya adalah ajaran Ahli Sunah. Sebagian pengikut Syiah pernah berkata kepada saya bahwa musuh sejati Islam adalah Salafi ini. Tetapi saya jawab, Salafi sangat berbeda dengan Wahabi. Dengan hanya merubah nama, kaum Wahabi telah berhasil menipu banyak Syiah dan Ahli Sunah, serta mengadu domba mereka. Pada abad ke-18 dan 19, bahkan hingga pertengahan abad ke-20; yakni sekitar tahun 1950, kata Salafi masih digunakan sesuai dengan artinya yang asli. Dari sejak negara Arab Saudi terbentuk dan tindakan-tindakan diplomatik yang mereka lakukan, kata Salafi didudukkan sebagai ganti kata Wahabi.

 

Sumber: Alhassanain.org

Share Artikel Ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *