Al-Qur’an Menurut Para Imam Syiah

Syiahindonesia.id – Banyak sekali riwayat-riwayat dari Ahlul Bait As yang menjelaskan bahwa Qur’an yang ada di tengah-tengah masyarakat adalah Qur’an yang telah diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Jika kita memperhatikan perkataan para imam, kita akan dapati bahwa mereka menyeru kita untuk menjadikan Qur’an yang ada di tengah-tengah kita ini sebagai poros argumen kita, sebagai sumber pendidikan umat dan hukum- hukum. Mereka memerintahkan kita untuk membaca, menjaga, menghafal dan bertadabur dalam ayat-ayat Qur’an. Ini semua adalah bukti betapa mereka menjunjung tinggi Al- Qur’an yang ada di tangan umat seperti yang ada sekarang.

Di sini kami akan membawakan beberapa ucapan para imam Ahlul Bait as:

  • Imam Ali As menyeru umat Islam untuk memperhatikan Qur’an dan beliau juga menjelaskan ilmu-ilmunya. Hal itu membuktikan bahwa Qur’an yang ada di tengah-tengah masyarakat adalah Al-Qur’an yang telah diturunkan kepada nabi. Berikut beberapa dari perkataan beliau tentang Qur’an:                                                                                                                                                  a. Beliau berkata: “Kitab Tuhan kalian ada di tengah-tengah kalian, menjelaskan halal dan haram-Nya, wajib dan mustahab, nasikh dan mansukh, mubah dan terlarang, khusus dan umum, nasehat dan contoh-contoh, mutlaq dan muqayyad, muhkam dan mutasyabih. Qur’an menjelaskan ayat-ayatnya yang rumit, dan menerangkan segala yang tak jelas. Sebagian hukum-hukum yang ada di ayat-ayatnya dinaskh (dinyatakan tidak wajib) melalui sunah nabi, dan sebagian kewajiban yang telah dijelaskan dalam sunah nabi, dinyatakan tidak wajib dalam Al-Qur’an. Ada sebagian hal yang hanya wajib untuk beberapa masa saja lalu kewajiban itu dicabut….”[1]
  • Beliau juga berkata: “Apakah Tuhan menurunkan agama yang tak sempurna lalu meminta mereka untuk menyempurnakan? Apakah Tuhan menurunkan agama yang sempurna namun nabi-Nya tidak menjalankan tugasnya untuk menyampaikannya dengan baik? Padahal Tuhan berfirman: “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab.” (QS. Al-An’am [6] : 38)”[2]
  • Dalam sebuah surat yang ia tulis untuk Harits Hamdani ia berkata: “Berpeganglah pada tali Qur’an dan carilah pelajaran dan nasehat darinya sertia halalkan apa yang dihalalkannya dan haramkan apa yang telah diharamkannya.”[3]
  • Beliau juga pernah berkata: “Iman berbuah dengan membaca Qur’an.”[4]
  • Ia selalu mengajak umat Islam untuk bertadabur dan berfikir pada ayat-ayat Qur’an. Ia berkata: “Ketahuilah bahwa membaca Qur’an saja tanpa memikirkannya sama sekali tidak ada kebaikan padanya. Fahamilah pula bahwa ibadah tanpa memahami agama sama sekali tak ada manfaatnya.”[5]

Jelas “membaca Qur’an” yang disinggung oleh sang imam adalah membaca Qur’an sebagaimana yang semua orang lakukan, bukan selainnya.

Beliau pernah berkata tentang Al-Qur’an: “Tuhan telah menjadikannya sebagai pemuas rasa haus para ulama, berseminya hati fuqaha’, penerang jalan hamba-hamba saleh, dan obat yang tak ada rasa sakit lagi setelahnya. Qur’an adalah cahaya yang dengannya tak ada lagi kegelapan.”[6]

  • Imam Hasan As dalam menggambarkan Qur’an berkata: “Sesungguhnya dalam Qur’an ini terdapat mata air dan obat untuk hati. Maka semua orang harus berjalan di bawah cahayanya dan menyesuaikan dirinya dengan Qur’an, dan hendaknya diketahui bahwa talqin adalah hayat hati yang sadar dan berguna untuk orang yang berjalan di jalan yang gelap dengan menggunakan cahaya.”[7]
  • Imam Sajjad As dalam doa khatam Qur’an berkata: “Ya Tuhan, karena Engkau telah memberi taufik kepada kami untuk membacanya, maka berilah kami taufik pula untuk menjadi orang-orang yang mengenal hak-haknya dan pasrah pada hukum-hukumnya.”[8]
  • Diriwayatkan dari Imam Shadiq as: “Sesungguhnya Allah Swt berfirman kepadaorang-orang yang beriman: “Ketika dibacakan Qur’an maka dengarkanlah.”[9]

Beliau juga mengatakan: “Sesungguhnya Qur’an memiliki batin (hal yang berada di dalam)… dan tak ada yang lebih jauh dari akal seseorang selain tafsir Qur’an.

Di awal ayat ada satu masalah, dan begitu juga di akhir ayat, yang seluruhnya saling berkaitan…”[10] Ia juga pernah berkata: “Barang siapa membaca Qur’an di Makah dan mengkhatamkannya dalam satu minggu, dari hari jum’at hingga jum’at, pahalanya adalah sebanyak jumlah awal jum’at dunia hingga akhir jum’at dunia. Meskipun di hari-hari lainnya Qur’an dibaca, pahalanya pun demikian.”[11]

  • Ali bin Salim menukil dari ayahnya: Aku bertanya kepada Imam Shadiq as: Wahai putra Rasulullah, apa yang kau katakan tentang Qur’an? Ia menjawab: Itu adalah kalam Allah, perkataan Allah, kitab Allah, wahyu Allah yang telah diturunkan, dan itu adalah kitab yang “Yang tidak datang kepadanya [Al Qur’an] kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Al- Fushilat [41] : 42)[12]

Beliau juga berkata: “Sesungguhnya Allah Swt menjadikan wilayah terhadap kami sebagai poros Al-Qur’an dan seluruh kitab. Ayat-ayat muhkam Qur’an mengitarinya dan berkat wilayah kami kitab-kitab diberikan dan iman menjadi

terang dan jelas.”[13]

Ia juga berkata: “Barang siapa menafsirkan Qur’an dengan pendapat pribadinya, ia takkan mendapatkan pahala. Dan jika ia salah, maka dosanya akan ditimpakan pada dirinya sendiri.”[14]

Para faqih banyak memberikan penjelasan tentang surah-surah pendek yang kita baca dalam shalat harian kita.[15] Sebagaimana Syaikh Shaduq telah menjelaskan pahala membaca tiap surah Qur’an berdasarkan hadits-hadits yang diriwayatkan dari ma’shumin.[16]

Kebanyakan ulama besar Syiah seperti Syaikh Shaduq berdasarkan riwayat menyatakan bahwa Al-Qur’an terjaga dari perubahan.[17]

Diriwayatkan dari Imam Baqir as, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Rasulullah Saw bahwa beliau bersabda: “Barang siapa membaca 10 ayat setiap malam, maka ia tidak akan dianggap sebagai orang yang lalai. Barang siapa membaca 50 ayat, ia akan desebut sebagai orang yang ingat. Yang membaca 100 ayat, disebut dengan qanitin (orang-orang yang qunut). Yang membaca 200 ayat disebut dengan orang-orang yang khusyu’.

Orang yang membaca 300 ayat, disebut dengan orang yang menang. Orang yang membaca 50 ayat disebut dengan orang yang berjuang (mujtahidin). Dan barang siapa membaca seribu ayat Qur’an, maka pahala tak terhingga akan dituliskan untuknya.”[18]

Diriwayatkan dari Imam Shadiq as: “Hendaklah kalian membaca Qur’an, karena tingkatan- tingkatan surga tergantung pada jumlah ayat- ayat Qur’an. Ketika hari kiamat tiba, kepada orang yang membaca Qur’an akan dikatakan: “Bacalah, dan naiklah ke atas. Setiap ayat yang ia baca mengangkatnya satu tingkatan.”[19]

Begitu pula telah diriwayatkan dari beliau: “Setiap mukmin yang mengaku Syiah kami, wajib baginya untuk membaca surah Al-Jumu’ah di malam Jum’at dan juga surah Al-A’la. Jika ia melakukannya, artinya ia telah menjalankan sunah nabinya, dan pahalanya di sisi Allah adalah surga.”[20]

  • Diriwayatkan dari Rabban bin Shilat, bahwa ia bertanya kepada Imam Ridha as: “Wahai putra Rasulullah, apa menurutmu tentang Qur’an?” Lalu beliau menjawab: “Qur’an ini adalah kalam Allah. Janganlah kalian mendahuluinya, dan janganlah kalian mencari petunjuk dari selainnya, karena kalau tidak kalian akan tersesat.”[21]

Dalam sebuah tulisan yang ia tujukan kepada Ma’mun tentang syariat dan agama Islam, beliau menulis: “Mengimani seluruh yang dibawakan oleh nabi Muhammad Saw adalah haqqul mubin. Kita harus membenarkan apa yang dibawakan oleh Rasulullah Saw dan nabi-nabi sebelumnya, serta kitab Allah ini yang tidak ada kebatilan sama sekali di dalamnya. Dari bawal hingga akhir kitab Allah adalah haq dan benar, seluruh ayatnya, yang muhkam atau mutasyabih, khusus atau umum, ancaman atau imbalan, nasikh atau mansukh, kisah dan

nasehatnya, semuanya kita imani. Tak satupun makhluk Allah Swt dapat membawakan tandingannya.”[22]

 

CATATAN :

  1. Nahjul Balaghah: khutbah pertama, terjemahan Muhammad Dashti.
  2. Syarah Nahjul Balaghah: jil. 1, hal. 288, khutbah 18, terjemahan Muhammad Dashti.
  3. Ibid: jil. 1, hal. 7, khutbah 187.
  4. Ghurarul Hikam: hadits no. 7633.
  5. Biharul Anwar: jil. 92, hal. 211.
  6. Nahjul Balaghah: khutbah 198; Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid: jil. 10, hal. 199.
  7. Biharul Anwar: jil. 78, hal. 112.
  8. Shahifah Sajjadiyah: doa ke 42.
  9. Biharul Anwar: jil. 92, hal. 222.
  10. Ibid: jil. 92, hal. 20.
  11. Tsawabul A’mal wa Iqabul A’mal: hal.125.
  12. Amali, Syaikh Shaduq: hal. 545.
  13. Biharul Anwar: jil. 92, hal. 27.
  14. Ibid: jil. 92, hal. 110.
  15. Jawahirul Kalam: jil. 9, hal. 400.
  16. Tsawabul A’mal: hal. 130.
  17. Al-I’tiqadat, Syaikh Shaduq: hal. 93.
  18. Al-Amali, Syaikh shaduq: hal. 359
  19. Tsawabul A’mal: hal. 146.
  20. Uyun Akhbar Ar-Ridha: jil. 2, hal. 546
  21. Ibid: jil. 2, hal. 130.

 

 

Sumber: http://alhassanain.org

Share Artikel Ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *