Benarkan Iran Menyebarkan Syiah ?

Benarkan Iran Menyebarbkan Syiah ?

Kesaksian Seorang Wartawan Sunni

Oleh: Kamal Khalaf ( Penulis dan Wartawan Palestina)

 

Beberapa hari ini Iran merayakan peringatan ke empat puluh tahun dari Revolusinya. Pada tahun 1979 telah terjadi goncangan politik dalam sejarah yang merubah peta kekuatan regional, dan membalikan arah Iran di kawasan untuk kepentingan Bangsa Arab. Pihak yang pertama kali berbahagia dan menyambut serta beruntung dari Revolusi itu adalah rakyat Palestina. Dan Israel diusir dengan keras dari sebuah negara kuat di Timur Tengah.

Setelah itu, muncul pertanyaan apakah benar Iran berusaha mengekspor mazhabnya sejak Revolusi hingga saat ini, sebagaimana yang diyakini banyak kalangan ? Apakah Iran telah melakukan “ syiahisasi “ orang-orang Arab di manapun, atau berusaha untuk itu ?

Izinkanlah saya akan menyampaikan sebuah kesaksian dari pengalaman pribadi saya. Kemudian saya mencoba untuk memberikan pandangan dan kesimpulan secara obyektif sehingga terungkap mana yang faktual dan mana yang mitos.

Saya masih ingat pada pertengahan tahun 2006.  Saat itu saya datang ke Iran pertama kali. Saya pergi ke Iran untuk bekerja di radio dan televisi Iran yang bertempat di sebuah bangunan yang besar dan megah, bukan sekedar bangunan biasa. Bangunan yang terletak di sebuah area yang sangat luas di bagian utara ibukota Teheran. Area itu laksana sebuah kota lengkap. Di dalamnya terdapat beberapa stasiun televisi nasional dan internasional dengan berbagai bahasa asing, bank, tempat-tempat rekreasi, sekolah, taman kanak-kanak, masjid besar, kolam renang, beberapa restaurant, kantor penerbangan, taman-taman dan sebuah gedung besar untuk seminar.

Saya masih ingat juga bagaimana perhatian dan sambutan yang saya terima dari orang-orang Iran meskipun saya masih muda sekali. Cukup bagiku sebagai orang Palestina untuk mendapatkan perhatian yang begitu besar itu.

Di station televisi siaran bahasa Arab yang didirikan pada tahun 2003 di Iran, saya menemui banyak sekali para wartawan Arab dari Palestina, Suria, Irak, Mesir, Sudan, Maroko, Murtania, Jordania dan Lebanon. Kebanyakan dari mereka bermazhab Sunni. Saya bekerja bersama mereka beberapa tahun. Diantara mereka ada yang relijius, beraliran kiri, nasionalis Arab, liberal dan netral. Mereka berkumpul dan sering berdiskusi secara terbuka dan nyaman; baik saat bekerja atau saat istirahat di tempat masing-masing di sore hari.

Kawan-kawan saya yang berasal dari Arab-Sunni biasa melaksanakan solat di Mushola yang berada di dalam gedung stasion televisi bersama kawan-kawan saya dari Iran atau orang Arab yang bermazbah Syiah. Orang-orang Iran baik pimpinan maupun petugas tidak peduli dengan perbedaan mazhab para wartawan Arab yang mayoritas bermazhab Sunni, dan tidak seorangpun dari orang Arab Sunni yang merasa takut dalam melaksanakan solat atau menyampaikan keyakinan mazhabnya.

Sejak beberapa tahun, banyak dari mereka yang keluar untuk kerja di negara lain atau kembali ke negara mereka sendiri tanpa merubah mazhab mereka atau menjadi Syiah. Ini sebuah bukti sejarah, dan banyak dari kawan-kawanku yang mengetahuinya. Mereka sekarang sudah bekerja di televise-televisi lain di luar Iran.

Jika orang-orang Iran di negerinya sendiri tidak berusaha men-syiahkan para wartawan Arab yang bekerja di Iran dan bahkan membiarkan mereka menjalankan mazhab mereka, maka mana mungkin mereka menyebarkan mazhab Syiah ke negara-negara Islam?

Saya masih ingat di hari-hari itu bagaimana persahabatan yang saya alami dengan berbagai kalangan masyarakat t Iran, sebuah persahatan yang dibangun atas rasa hormat dan kepercayaan. Tidak pernah seorang pun dari mereka, baik pejabat maupun orang biasa, menejelaskan kepadaku bahwa mazhab mereka lebih baik dan lebih pantas diikuti. Pada saat diskusi tentang masalah agama, banyak dari mereka menjelaskan dengan semangat persaudaraan persatuan dan tidak menunjukan perpecahan dalam hal-hal negatif yang sering disematkan kepada Syiah.

Masyarakat Iran adalah masyarakat yang relijius, namun juga masyarakat yang berperadaban. Mereka sangat memerhatikan kebudayaan, peradaban dan pengetahuan, olahraga, bisnis dan hiburan. Mereka tidak seperti yang dianggap sebagian orang, berambisi menyebarkan mazhab Syiah, atau mengajak kelompok lain untuk memeluk ajarannya. Percaya atau tidak, sesungguhnya orang-orang Syiah di Iran lebih moderat beberapa tingkat dari orang-orang Syiah Arab.

Sementara para politisi Iran yang memegang kekuasaan mempunyai pandangan bahwa adalah kepentingan dan kemaslahatan Iran untuk menjalin hubungan dan bersekutu dengan kekuatan-kekuatan Sunni, baik pemerintahan, partai maupun kelompok Sunni untuk tidak merubah mereka menjadi Syiah. Bukan maslahat Iran jika Bangsa Arab menjadi Syiah. Khsusnya para politisi yang melihat kekuatan-kekuatan Sunni secara jujur.

Iran memahami bahwa ia membutuhkan jembatan-jembatan penghubung dengan Bangsa Arab , dan bahwa upaya men-syiahkan orang yang dekat dengannya tidak ada manfaatnya, bahkan membahayakan. Misalnya, Fatah (Partai politik Paletinan pimpinan Mahmud Abbas) pernah bersekutu dengan Garda Revolusi Iran namun Fatah tidak menjadi Syiah. Kemudian giliran HAMAS yang  bergantung pada Iran dalam persenjataan dan dana, namun HAMAS tidak menjadi Syiah. Demikian pula Jihad Islam dan Front Nasional yang beraliran kiri. Hal yang sama dengan kekuatan dan partai Sunni di Lebanon hingga isu syiahisasi di Suria. Padahal di Suria tidak ada gerakan itu. Justru Suria sekarang tambah menjadi moderat dan sekuler dalam undang-undangnya yang baru.

Saya yakin bahwa isu syiahisasi digunakan sebagai alat untuk menakut-nakuti masyarakat, para politisi dan partai-partai dalam berhubungan dengan Iran sehingga bayangan ini menjadi bagian dari propaganda mengucilkan Iran dan menjadikannya sebagai musuh Bangsa Arab.

Dalam perayaan Revolusi Islam Iran kami ingin mengatakan bahwa sesungguhnya problema terjadi karena kita, Bangsa Arab, tidak mengetahui Iran; apa yang terjadi di dalam negerinya, bagaimana ia berpikir, apa yang ia inginkan, apa yang kita inginkan darinya, dan apa saja batas-batas kerjasama kita dengannya?. Oleh karena semua itu, sekarang ini kita belum berhubungan baik dengan tetangga besar dan tua itu. Saya pikir kita harus cermat dalam menerima berita-berita bohong tentang Iran yang disebarkan di tengah Bangsa Arab seakan-akan berita itu benar.

Sesungguhnya membesar-besarkan perbedaan Sunni-Syiah salah satu tanda keterbelakangan pada masyarakat umum Arab, dan terlepas dari keterbelakangan itu sebuah kewajiban agama, nasional dan kemanusiaan bahkan salah satu syarat untuk maju, berkembang dan menyusul peradaban bangsa. (www.raialyoum.com.06 Februari 2019)

 

 

Share Artikel Ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *