SAHABAT DALAM PERSPEKTIF SYIAH Bagian II

Al-Qur’an dan Keadilan Sahabat

Syiahindonesia.id – Dalam perang Uhud, ketika mendengar kabar bahwa Rasulullah terbunuh, banyak di antara sahabat yang kembali lemah imannya, bahkan mengarah ke arah kemurtadan, sehingga turunlah ayat, Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika Dia wafat atau terbunuh, kalian akan berbalik kebelakang (murtad)? (QS. Âli ‘Imrân [3]: 144)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat ini turun untuk peristiwa perang Uhud, untuk sahabat setelah mendengar Rasululllah telah terbunuh.[i] Ayat di atas menjelaskan tentang kemungkinan berpaling dan goyahnya keimanan sahabat (hanya setelah mendengar berita bohong terbunuhnya Rasul). Mungkinlah kita menyifati mereka dengan ‘adil mutlak’ kepada yang berpotensi untuk murtad?

Ibnu Katsir menulis tentang sahabat yang meninggalkan Rasul yang sedang khutbah Jum’at hanya karena perdagangan. Dia berkata bahwa Imam Ahmad berkata, Ibnu Idris dari Hushain bin Salim dari Jabir, ia berkata, “Aku sering masuk ke Madinah dan ketika Rasulullah Saw sedang berkhutbah orang-orang meninggalkan beliau dan tersisa hanya dua belas orang saja, kemudian turunlah ayat, Dan apabila mereka melihat perdagangan (yang menguntungkan) atau permainan (yang menyenangkan) mereka bubar dan pergi ke sana meninggalkan engkau berdiri (berkutbah). (QS. Al-Jumu’ah [62]: 11)[ii]

Untuk penelitian dan eksplorasi yang mendalam tentang kritik Alquran terhadap sahabat, silahkan anda buka kitab-kitab berikut:

– Tafsir surah Ali ‘Imrân ayat 161 oleh Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azhîm, juz 3, h. 237-250 dan Al-Thabari, Tafsîr Al-Thabari, juz 7, h. 348-365.

– Tafsir surah Al-Anfâl ayat 1 oleh Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azhîm, juz 7, h. 5-14, tafsir surah Al-Hujurât ayat 6 oleh Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azhîm, juz 13, h. 144-147.

Lihat juga tafsir surah Ali ‘Imrân ayat 103, Al-Ahzâb ayat 12-13, Al-Taubah ayat 60 dan 101-102, Al-Hujurât ayat 14, dan lain-lain yang tidak memungkinkan kita urai dan tulis satu persatu pada tempat ini.

Al-Sunnah Al-Nabawiyah dan Keadilan Sahabat

Alquran, sebagaimana telah kita urai, melihat sahabat sebagaimana tabi’in, yang di antara mereka ada yang adil dan yang fasiq, yang shaleh dan thaleh dan lain-lain. Sekarang marilah kita menengok sahabat dalam hadits-hadits Nabi Saw.

Al-Hakim dalam Al-Mustadrak meriwayatkan bahwa Rasulullah melarang sahabat-sahabat beliau untuk menyalati mayat seorang sahabat yang lain.[iii]

Rasulullah berlepas tangan dari Khalid bin Walid, karena membunuhi Bani Juzaimah yang telah menerima Islam, sebagian yang hidup lalu ditawan, tapi kemudian para tawanan itu pun dibunuh juga. Rasul mengangkat tangan ke langit “Ya Allah, aku berlepas tangan dari yang diperbuat Khalid” beliau mengatakannya dua kali.[iv]

Rasulullah Saw melaknat Hakam bin Ash bin Umayyah bin Abd Al-Salam – paman Ustman bin Affan dan ayah Marwan bin Hakam – dan melaknat apa yang terdapat dalam tulang rusuknya (keturunannya). Rasulullah bersabda, “celaka bagi umatku dari apa yang terdapat pada tulang rusuk orang ini (keturunan Hakam bin Ash).” Dalam hadits, Aisyah berkata kepada Marwan bin Hakam, “Aku bersaksi bahwa Rasulullah melaknat ayahmu, sedangkan engkau ketika itu berada pada tulang rusuknya.”

Bukhari dan Muslim meriwayatkan banyak sahabat Nabi dimasukkan ke dalam neraka dan tertolak dari kelompok Nabi Saw. Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi telah bersabda, “Tatkala aku sedang berdiri, muncullah segerombolan orang yang kukenal dan muncul pula seorang lelaki di antara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata, “Ayo.” Aku bertanya, ‘Kemana?’ Ia menjawab, ‘Ke neraka, demi Allah!’ Aku bertanya, ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab, ‘Mereka berbalik setelah engkau wafat.’ Dan yang lain dari Asma’ binti Abi Bakar yang berkata, Nabi bersabda, “Takkala berada di Al-Haudh, aku tiba-tiba melihat ada di antara kamu yang mengingkariku, yang mengikuti selain diriku.” Aku berkata, ‘Ya Rabbi, dari diriku dan umatku?’ Dan terdengar suara, ‘Apakah engkau mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu? Demi Allah mereka terus mengingkarimu.’ Dari bab yang sama yang berasal dari Sa’id bin Musayyib yang berasal dari para sahabat Nabi bahwa Nabi bersabda, “Di Al-Haudh sejumlah sahabat berbalik dan aku bertanya, ‘Ya Rabbi mereka adalah sahabatku!’ Dan Nabi mendapat jawaban, ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik mengingkarimu!’ Riwayat ini juga disampaikan oleh Sahl bin Sa’d. Bukhari juga meriwayatkan yang berasal dari Ibnu Abbas, Nabi Saw bersabda, “Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri dan aku berseru, ‘Sahabatku, sahabatku!’ dan terdengar jawaban, ‘Mereka tak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu.'”[v]

Muslim juga meriwayatkan, Nabi bersabda, “Sebagian orang menjadikan aku sebagai sahabat akan berbalik dariku di telaga Haudh, yaitu tatkala dengan tiba-tiba aku melihat mereka dan mereka melihat kepadaku, kemudian meninggalkanku dan aku benar-benar akan bertanya, ‘Wahai Rabbi, para sahabatku.’ Dan terdengar, ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu.'”[vi]

Sejarah dan Keadilan Sahabat

Dua uraian sumber hukum terpenting agama Islam, telah kita jelajahi dalam membaca kembali sahabat. Sekarang marilah kita journey ke petak-petak sejarah sahabat Nabi setelah beliau wafat.[vii]

Kita ambil dari Al-Thabari, Malik bin Nuwairah bin Hamzah Al-Ya’rubi sudah Islam dan saudaranya, Rasul menunjuknya sebagai petugas pengumpul zakat Bani Yarbu’. Setelah Rasul Saw wafat, meluas kemurtadan di antara kabilah-kabilah. Abu Bakar, mengutus Khalid bin Walid untuk memadamkan fitnah tersebut, tapi Khalid sangat berlebihan. Khalid membunuh sahabat-sahabat Nabi Saw termasuk Malik bin Nuwairah. Tidak sampai di situ, Khalid kemudian menzinahi istri Malik bin Nuwairah (yakni tanpa menunggu iddahnya). Pada masa Rasulullah pun Khalid bin Al-Walid pernah melakukan pembunuhan terhadap tawanan dan Rasulullah Saw pun berdoa, “Ya Allah sesungguhnya aku berlepas diri dari perbuatan Khalid.” Dan mengulanginya dua kali.[viii]

Abu Bakar dan Umar berbeda keras dalam kasus ini, Umar bersikeras agar Khalid bin Walid dihukum berat. Umar berkata kepada Khalid, “Kamu telah membunuh seorang muslim, lalu engkau memperkosa istrinya! Demi Allah, akan kurajam engkau! (lih. Ibnu Atsir, Al-Kâmil fi Al-Târîkh dan Ibnu Khalikan, Wafayât Al-A’yân) Abu Bakar alih-alih menghukum Khalid, Khalid dia malah diberi gelar Saif Allah Al-Maslul. Umar, setelah menjabat sebagai khalifah, memecat Khalid dan melantik Abu Ubaidah untuk menggantikan Khalid.[ix]

Sa’ad bin Ubadah, Hubab bin Al-Mundzir bin Al-Jamuh Al-Anshari, tidak membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Amirul Mukminin Ali, Al-Abbas, ‘Uthbah bin Abi Lahab (juga anggota Bani Hasyim lainnya), Abu Dzar, Salman Al-Farisi, Al-Miqdad, ‘Ammar bin Yasir, Zubair, Khuzaimah bin Tsabit, ‘Amr bin Waqadah, Ubay bin Ka’ab, Al-Bara’ bin ‘Azib. Semuanya pada mulanya menolak membaiat kepada Abu Bakar. Sejarah mencatat, malah sebagian dari mereka, seperti Sa’d bin Ubadah dan Hubab Al-Mundzir, malah terbunuh secara rahasia.[x]

Lihat juga pertengkaran Sayyidah Fatimah Al-Zahra, penghulu para wanita seluruh alam, putri belahan jiwa Rasulullah, dengan Abu Bakar. Semua mengetahui pertengkaran tersebut.[xi]

Sebenarnya masih sangat banyak yang telah tercatat dalam sejarah tentang perilaku sahabat, sebagaimana yang dilaporkan Muslim tentang sahabat pada masa Umar Bin Khattab yang menjual khamr.[xii] Tidak hanya sebatas itu, sahabat tersebut juga, suka menumpahkan darah orang-orang yang tak berdosa dan para pengumpul Alquran.

Aisyah binti Abu Bakar pernah memerintahkan membunuh Utsman bin Affan.[xiii] Mu’awiyah melaknat dan memerintahkan setiap khatib jum’at dan imam salat untuk melaknat Ali bin Abi Thalib, dan kedua cucu Rasulullah Saw, Al-Hasan dan Al-Husain di atas mimbar dan dalam qunut salat. Umar dan Abu Bakar melaknat Sa’ad bin Ubadah ketika ia masih hidup. Dan masih banyak lagi dalam sejarah, para sahabat melaknat sebagian sahabat yang lain dan berlepas diri dari yang lain.

Sebagaimana yang telah Alquran dan Sunnah telah wajibkan, menghormati sahabat dan memosisikan mereka pada derajat yang tinggi merupakan suatu kelaziman. Tapi selain itu, kedua sumber hukum Islam ini juga memerintahkan kepada kita untuk menilai sesuai dengan kapasitas mereka.

Orang-orang yang dicela Alquran sudah pasti bukan orang adil, orang-orang yang disebut fasiq pasti tidak adil. Orang-orang yang menyepelekan Nabi pasti bukan adil, orang-orang yang dilaknat Nabi Saw pasti tidak adil, orang-orang yang tidak cela Nabi Saw pasti tidak adil. Mereka sebagaimana kamu muslim yang lain, bisa jadi berbuat salah dan benar, di antara mereka ada yang adil sebagimana ada yang tidak. Menghukumi mereka adil secara keseluruhan adalah sangat berseberangan dengan sikap ilmiah dan bertentangan dengan sejarah, dan secara tidak langsung meragukan kebenaran nas. Bahkan syi’ar tersebut terbukti benar-benar bertentangan dengan nas-nas dan hadits Rasulullah Saw yang jelas. Alquran mengajarkan kita, wa lâ tus-alû ‘ammâ kânû ya’malûn – kalian tidak akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang mereka lakukan. Bukan wa la tas-alû ‘ammâ kânû ya’malûn – janganlah kalian bertanya terhadap apa yang mereka lakukan.

[i] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’ân Al-‘Azhîm, juz 3, h. 201, cet. 1, Muassasah Qurtubah, Jizah, Mesir, 2000 M (1421 H). Ibnu Qayyim, Zâd Al-Ma’âd, h. 253.

[ii] Kejadian ini juga direkam dalam Al-Shahîhain. (lih. Tafsir Ibnu Katsir 4/378, Al-Suyuthi, Al-Durr Al-Mantsûr, h. 220-223. Shahîh Al-Bukhârî, h. 222, hadis 936, Shahîh Muslim, h. 392, hadis 1881.

[iii] Imam Bukhari, Shahîh Al-Bukhâri, h. 300, hadis 1269, kitab Al-Janaiz, bab Al-Kafan fi Al-Qamish, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 2000.

[iv] Imam Bukhari, Shahîh Al-Bukhâri, h. 1057, hadits 4339, kitab Al-Maghazi, bab Ba’atsa Al-Nabi Khalid bin al-Walid, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 2000.

[v] Imam Al-Bukhari, Shahîh Al-Bukhârî, h. 1656-7, hadis 6587, kitab Al-Riqâq, bab Fî Al-Haudh. Bandingkan juga dengan hadis 6576, 6582, 6583, 6584, 6585, 7048, 7049, 7050, 7051. Juga lihat dua buah hadis dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal, j. 38, hadis 23290 dan 23393; j. 21, hadis 13991.

[vi] Imam Muslim, Shahîh Muslim, h. 1152, hadis 5890, kitab Al-Fadhail, bab Itsbat Haudh Nabiyyina wa Shifatihi, cet. 1, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 2002. Bandingkan dengan hadis-hadis sebelumnya. Lihat juga Musnad Al-Imâm Ahmad bin Hanbal pada catatan kaki sebelum ini.

[vii] Mukhtashar Tarikh Dimasyk 8/19, Siyar A’lam Al-Nubala’ 3/235, Tarikh Al-Thabari 2/272, Usud Al-Ghabah 2/95, dan Al-Ishabah 5/755.

[viii] Imam Al-Bukhari, Shahîh Al-Bukhârî, h. 1057, hadis 4339, kitab Al-Maghazi, bab Ba’ts Al-Nabiyy Khalid bin Al-Walid.

[ix] Al-Dzahabi, Siyar A’lâm Al-Nubalâ, juz 1, h. 378, cet. 3, Muassasah Al-Risalah, Beirut, Lebanon, 1985 M (1405 H).

[x] Shahîh Al-Bukhari dan Muslim, Tarikh Al-Thabari, Al-‘Iqd al-Farid dan Al-Kamil Ibnu Atsir.

[xi] Imam Al-Bukhari, Shahîh Al-Bukhârî, h. 756, hadis 3092-3, kitab Al-Khumus, h. 1036, hadis 4240-1, kitab Al-Maghazi, h. 1690, hadis 6725-6, kitab Al-Faraidh. Muslim 2/72, Musnad Ahmad bin Hanbal 1/6, Ibn Qutaibah, Al-Imâmah wa Al-Siyâsah, dan Ibnu Abi Al-Hadid Al-Mu’tazili, Syarh Nahj Al-Balâghah.

[xii] Shahîh Muslim, kitab Al-Usyrubah, bab Tahrim Al-Khamr.

[xiii] Al-Thabari, Târîkh Al-Rusul wa Al-Muluk, juz 4, h. 459, cet. 2, Dar Al-Ma’arif, Kairo, Mesir, 1967. Ibnu Al-Atsir, Al-Nihâyah fî Gharîb Al-Hadîts wa Al-Atsar, h. 926, cet. 1, Dar Ibnu Al-Jauzi, Damam, Saudi Arabia, 1421 H.

Share Artikel Ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *