Hasan Nasrullah : Sayyidi wa Habibi

Hasan Nasrullah : Sayyidi wa Habibi

Sayyid Hasan Nasrullah bukan seorang Nabi yang maksum dan juga bukan Imam Ahlul Bait yang suci. Dia tidak hidup belasan tahun yang lalu. Dalam ilmu agamapun, menurut tradisi keilmuan Syiah,  dia belum mencapai tingkat mujtahid ( Ayatullah). Bagi saya, meneladani Nabi Muhammad saw. dan para Imam Ahlul Bait as. terlalu berat dan jauh. Mereka adalah manusia-manusia suci dan pilihan Allah swt. Kehidupan mereka yang mulia dan indah kita ketahui lewat teks-teks riwayat dan sejarah.  Saya hanya bisa berimajinasi tentang kesantunan Nabi saw, kegagahan Imam Ali, ibadah Imam Ali Zainul Abidin dan perilaku indah para imam Ahlul Bait lainnya. Mereka hidup ratusan tahun yang lalu.

Meski Sayyid Hasan Nasrullah seperti yang disebutkan di atas, bagi saya, dia adalah seorang panutan yang layak diteladani. Banyak yang dapat saya ambil pelajaran dari kehidupannya untuk diteladani. Kehadirannya pada abad dua puluh satu ini cukup menjadi bukti bahwa ada manusia yang baik dan istimewa pada zaman ini. Salah satu yang layak diteladani darinya adalah sikapnya terhadap orang-orang yang membenci dan memusuhinya.

Semua orang tahu dan mengakui, hatta musuhnya sekalipun, bahwa Sayyid Hasan seorang orator dan singa mimbar. Ketika dia ceramah, mata dan telinga para pemimpin dunia akan memerhatikannya. Isi ceramahnya berbobot dan bernas. Dia menyampaikannya dengan tenang, dan para pendengarnya menyimaknya dengan khusu’. Kadang-kadang dia mengucapkan kata-kata yang mengundang gelak tawa para hadirin, tapi tidak melawak dan konyol. Ketika berbicara tentang perjuangan dan penindasan terhadap rakyat Palestina, maka ceramahnya berapi-api dan bersemangat, dan para pendengarnya langsung menyahuti dengan yel-yel tanpa diminta olehnya. Saya sendiri yang sering mengikuti ceramahnya lewat layar televisi terbawa secara emosional dan ikut berteriak sendirian, sehingga anak saya berkata dari kamarnya, “ Abah, kenapa teriak-teriak sendirian ? “.

Yang menarik, ketika mengkritik saingan politiknya bahkan mengecam musuhnya, misalnya PM Israel, Benyamin Netanyahu, Shimon Perez dan lainnya, dia tidak pernah mencaci maki mereka atau menyebut mereka dengan sifat-sifat yang buruk apalagi menyebut mereka dengan nama-nama binatang. Meskipun marah terhadap mereka, dia tetap bisa mengontrol lisannya dari ucapan yang kotor dan buruk.

Sayyid Hasan bukan Nabi dan Imam Ahlul Bait, tapi dalam tubuhnya mengalir darah mereka. Karena itu, dia seorang sayyid dan habib secara genetik. Dalam dirinya tersimpan akhlak para leluhurnya. Karena itu, dia seorang pemimpin (sayyid) umat dan dicintai (habib) oleh umat manusia; Muslim dan non Muslim. Dia adalah junjunganku dan kekasihku. ( Husein Alkaff)

 

Share Artikel Ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *